Punya komputer lama yang sebenarnya masih berfungsi, tetapi terasa semakin berat ketika menjalankan sistem operasi modern? Jangan buru-buru menganggapnya sudah tidak berguna. Bisa jadi, komputer tersebut hanya membutuhkan sistem operasi yang lebih sesuai dengan kemampuannya.
Di dunia Linux, pilihan distro ringan sudah lama tersedia. Ada antiX, Puppy Linux, hingga MX Linux dengan Fluxbox. Namun, bagaimana jika kita menginginkan sesuatu yang berbeda: desktop ringan dengan teknologi grafis modern, tampilan yang nyaman, dan pengaturan yang tidak mengharuskan kita menghabiskan waktu di terminal?
Di sinilah FlickOS menarik perhatian. Distro FlickOS punya kelebihan dan kekurangan.
Tapi FlickOS mencoba memadukan efisiensi dengan kenyamanan desktop masa kini. Distro ini tidak hanya menawarkan lingkungan grafis minimalis, tetapi juga fitur yang membantu pengguna mengelola sistem dengan lebih praktis.
Mengenal FlickOS dan Perubahan Besarnya pada Versi 2.0
FlickOS 2.0 merupakan pembangunan ulang dari versi sebelumnya yang menggunakan basis Ubuntu 20.04 dan LXLE. Versi 2.0 beralih ke Debian 13 Trixie dengan kernel Linux 6.12 LTS dan compositor labwc berbasis Wayland.
Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama basis sistem. Pengembang membangun kembali lingkungan desktop dengan komponen yang relatif ringan, seperti Waybar, Mako, Fuzzel, Foot, dan PCManFM.
Hasilnya adalah desktop yang berusaha tetap sederhana tanpa mengharuskan pengguna merancang sendiri setiap bagian antarmuka.
Sebagai catatan, versi terbaru yang tercantum saat artikel ini ditulis adalah FlickOS 2.1. Versi ini menambahkan layar login grafis, menu aplikasi, jendela Welcome, pengaturan sistem yang lebih lengkap, dan fitur History yang diperluas. Jadi, pembaca yang ingin mencoba sebaiknya mengunduh versi 2.1, bukan terpaku pada ISO 2.0.
Desktop Wayland: Modern Tanpa Harus Terlihat Rumit
Salah satu daya tarik FlickOS adalah penggunaan labwc, compositor Wayland yang memungkinkan pengelolaan jendela secara sederhana.
Pengguna Linux yang terbiasa dengan Fluxbox atau Openbox mungkin akan menemukan pendekatan yang familiar. Namun, labwc berjalan di atas Wayland, bukan X11 seperti kedua window manager tersebut pada konfigurasi umumnya.
Wayland menyediakan fondasi grafis modern, sedangkan labwc menangani pengaturan jendela. Kombinasi ini memungkinkan FlickOS menghadirkan desktop ringan tanpa harus menggunakan lingkungan desktop besar.
Meski demikian, penggunaan Wayland tidak otomatis menjamin performa lebih cepat atau baterai lebih awet. Hasilnya tetap bergantung pada perangkat keras, driver, aplikasi, dan konfigurasi.
FlickOS juga dirancang agar lebih siap digunakan dibandingkan window manager minimalis yang harus dikonfigurasi secara manual. Resolusi layar, panel, menu, tema, dan berbagai pengaturan desktop telah disiapkan. Meski begitu, kompatibilitas perangkat tertentu tetap perlu diuji.
Tiga Layout Desktop dalam Satu Sistem
FlickOS menyediakan tiga pilihan layout yang dapat diganti melalui pengaturan desktop tanpa harus logout atau reboot.
Redmond menawarkan panel di bagian bawah dengan pendekatan yang akrab bagi pengguna Windows. Cupertino menghadirkan bilah atas dan dock yang mengingatkan kita pada macOS. Sementara itu, Traditional menggunakan panel atas, daftar jendela, dan empat desktop virtual.
Fleksibilitas ini terasa berguna bagi mereka yang baru berpindah sistem operasi. Kita tidak harus langsung menyesuaikan seluruh kebiasaan kerja dengan antarmuka yang asing.
Bagi pengguna yang ingin bereksperimen, fitur ini juga memberikan kesempatan untuk menemukan pola desktop yang paling nyaman tanpa perlu memasang lingkungan desktop tambahan.
Fitur Undo: Salah Mengubah Pengaturan Tidak Harus Menjadi Masalah Besar
Inilah salah satu fitur FlickOS yang paling menarik untuk dibahas lebih jauh.
Pada FlickOS 2.1, halaman History di Settings mencatat perubahan pengaturan desktop dan pemasangan maupun penghapusan perangkat lunak. Setiap perubahan yang didukung memiliki tombol Undo. Ada pula opsi untuk mengembalikan pengaturan ke kondisi pada hari sebelumnya.
Bayangkan Anda menghapus aplikasi yang ternyata masih dibutuhkan, atau mengubah konfigurasi desktop hingga tidak nyaman digunakan. Daripada mencari perintah terminal yang tepat, Anda dapat membuka riwayat dan membatalkan perubahan terkait.
Pendekatan ini berbeda dari snapshot sistem seperti Timeshift. Snapshot mengembalikan sistem ke kondisi pada titik waktu tertentu, sedangkan History FlickOS berfokus pada pembatalan perubahan individual yang tercatat.
Fitur tersebut tentu bukan perlindungan terhadap semua jenis kerusakan. Namun, bagi pemula yang ingin belajar Linux sambil mencoba berbagai pengaturan, fitur Undo bisa mengurangi rasa takut melakukan kesalahan.
flick-tiler: Mengatur Jendela Lebih Produktif
FlickOS juga menyediakan flick-tiler, fitur tiling opsional yang mengubah cara jendela disusun. Secara bawaan, fitur ini tidak aktif.
Tekan Super + T untuk mengaktifkan atau menonaktifkannya. Tombol Super biasanya merupakan tombol Windows pada keyboard PC. Anda juga dapat menggunakan Super + M untuk mengganti susunan jendela, serta Super + J atau K untuk berpindah fokus.
Tiling bermanfaat ketika Anda ingin membaca dokumen sambil membuka browser, membandingkan dua tulisan, atau memantau terminal tanpa terus-menerus menggeser jendela.
Ada batasan yang perlu diketahui: jendela yang sudah terbuka sebelum tiling diaktifkan mungkin tetap mengambang sampai disusun ulang. Pengaturan tiling juga memiliki keterbatasan pada penggunaan beberapa monitor.
Aplikasi Bawaan dan Instalasi FlickOS
ISO FlickOS berukuran sekitar 1,4 GB dan sudah mencakup Firefox ESR, LibreOffice, VLC, serta sejumlah aplikasi untuk mengelola berkas, gambar, dokumen, dan arsip.
Dukungan PipeWire untuk audio, NetworkManager untuk jaringan, Bluetooth, pencetakan, dan Flatpak melalui Flathub turut disediakan. Installer grafis Calamares membantu pengguna menjalankan instalasi tanpa harus mengikuti prosedur manual yang rumit. ISO hybrid-nya mendukung boot BIOS maupun UEFI, tetapi hanya untuk arsitektur 64-bit.
Untuk mencoba FlickOS, unduh ISO versi 2.1 dari [halaman resmi FlickOS di SourceForge]. Verifikasi checksum SHA-256 sesuai berkas yang disediakan, lalu buat Live USB menggunakan Balena Etcher atau perangkat sejenis.
Boot dari USB dan uji Wi-Fi, audio, resolusi layar, suspend, serta aplikasi yang Anda gunakan sehari-hari. Jika semuanya berjalan baik, barulah pertimbangkan instalasi permanen. Cadangkan data terlebih dahulu, terutama jika Anda berencana mengubah partisi atau mengganti sistem operasi.
Perlu diketahui pula bahwa pengguna FlickOS 1.x harus melakukan instalasi baru untuk beralih ke versi 2.x. Sementara itu, pengguna 2.0 dapat memperbarui ke 2.1 melalui repositori APT FlickOS sesuai petunjuk resmi.
Kesimpulan: Ringan Saja Tidak Cukup
FlickOS menawarkan pendekatan menarik bagi pengguna yang menginginkan desktop Linux ringan, modern, dan relatif mudah dikonfigurasi. Wayland, tiga layout desktop, fitur History, serta flick-tiler menunjukkan bahwa desktop minimalis tidak harus identik dengan pengalaman yang serba manual.
Namun, jangan menilai distro hanya dari tampilan atau klaim konsumsi RAM. Uji kompatibilitas perangkat keras, aplikasi kerja, dan kenyamanan penggunaan sebelum menjadikannya sistem utama.
Bagi pengguna yang terbiasa dengan antiX atau MX Linux Fluxbox, FlickOS layak dicoba sebagai alternatif dengan pendekatan grafis berbeda. Bagi pemula, fitur Undo dapat menjadi nilai tambah yang membuat proses belajar terasa lebih aman.
Pada akhirnya, tujuan menggunakan Linux bukan sekadar menemukan sistem operasi paling ringan. Tujuannya adalah membuat komputer tetap berguna, pekerjaan lebih nyaman, dan waktu kita tidak habis hanya untuk mengurus sistem.
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
14.46
Rating:

Tidak ada komentar: