Tips Dan Trik Pengalaman Masalah Hidup | Makkellar

Kumpulan Berbagai Cara Menghadapi Masalah

Tips Mengenai Cara-cara Sederhana Menghadapi Masalah Kehidupan Sehari-hari dari yang Berat sampai yang Ringan.

Butuh Ketenangan Ketika Menghadapi Kesulitan Hidup

Tips Sederhana. Diamlah Sejenak dan Biarkan Pikiran Berhenti Hingga Muncul Kesegaran Baru Kemudian Berpikir Langkah-langkah Berikutnya

Jangan Lupa untuk Bahagia

Kunci Jawaban Hidup Bahagia, Tersenyumlah! Karena Akan Memberi Kebahagiaan Bagi Diri dan Kepada Orang Lain

Gerakan yang Tepat Menentukan Posisi

Perlu ada Gerakan Supaya Ada Semangat, Jangan Diam Bila Ingin Mencapai Sesuatu

Orang Lain Sangat Penting Bagi Keberhasilan Kita

Hidup ini Memang Bukan Hanya untuk Diri, Tapi Juga untuk Orang Lain. Mereka Begitu Penting Membentuk Karakter Kita

Selasa, 22 September 2020

Sukses Belanja Online, Kuncinya Bertanyalah Terlebih Dahulu


Belanja online yang dimaksud adalah belanja online di tempat-tempat yang memang sudah terpercaya, karena kalau tidak, tentu jangan mengambil resiko membeli barang di tempat-tempat yang tidak diketahui keberadaan penjualnya, dan tidak ada pihak yang mengatur bila ada persoalan ketika berbelanja. Yang dimaksud mengatur jual beli itu seperti Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Shopee dan seterusnya sebagai penyedia jasa mengatur antara kepentingan pembeli dan penjual. Bila ada masalah e-commerce itu memiliki aturan-aturan jelas bagaimana menyelesaikannya. Karena masing seringkali kita membaca berita seseorang tertipu belanja secara online tanpa kejelasan di mana alamat dan pengirimnya dari sang penjual. Karena harga yang sangat murah dan bujukan bonus yang berjibun, lalu kita melupakan siapa penjual barang tersebut. Kalaupun kita sudah mempeli di sebuah toko online ternama, bukan berarti semua barang yang ingin kita beli akan selalu tersedia. Makanya kunci untuk membeli yang berhasil adalah dengan bertanya terlebih dahulu barang yang akan kita inginkan untuk dibayar. Setiap toko online biasanya menyediakan berbagai media orang bisa berkomunikasi termasuk bertanya.

Adakalanya penjual di diskripsi barang-barangnya menyertakan kalimat, tidak perlu bertanya, barang selalu ready. Tapi tentu saja bertanya bukan hanya, apakah barangnya ada atau tidak tersedia. Namun lebih dari itu kita ingin barang yang akan kita beli itu adalah barang yang sesuai dengan spesifikasi, keadaan, warna dan seterusnya sesuai dengan apa yang kita bayangkan.

Adagium atau pepatah pengatakan, "malu bertanya sesat di jalan" sangat tepat juga untuk disematkan dengan perilaku kita dalam berbelanja. Memang ada sih penjual yang merasa terganggu bila pembeli yang mengirimkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada di keterangan diskripsi. Tapi, bila itu terjadi, lebih baik mencari toko lainnya yang penjualnya ramah. 

Keramahan dalam bertanya tentu juga akan menghasilkan barang yang pasti akan dikhususkan (semoga). Karena bila kita tidak ramah dalam bertanya, pasti hasilnya juga tidak baik. Apalagi bila jumpa dengan penjual yang sama-sama tidak ramah, maka jadilah suasana yang tidak baik. 

Sebenarnya kata netral dalam penyebutan atau sapaan atau panggilan dalam dunia jual beli secara online adalah GAN kependekan dari juragan. Panggilan ini memang mencairkan suasana dan mendekatkan antara pembeli dan penjual. Tentu saja panggilan tersebut ingin menjauhkan sikap formal dan kaku bila menggunakan panggilan bapak atau ibu. "Gan, barang ini ready berapa?" Dan jangan kaget juga bila sang penjual terkadang menjawab dengan panggilan yang sama yaitu, GAN. "Tinggal satu gan."

Kembali kepada adagium tadi, malu bertanya sesat di jalan itu memang akan berlaku ketika kita malu atau malas bertanya mengenai barang yang akan kita beli. Karena bila penjual mengira-mengira saja apa yang dikirim, tentu bila cocok, puji Tuhan, alhamdulilah, tapi bila tidak sesuai maka kita akan kecewa dalam berbelanja. Kalau belanja barang-barang yang harganya di bawa Rp. 50.000 mungkin tidak jadi kepikiran, tapi bila bila harganya mahal, itu memanng akan menyakitkan. Jadi bertanyalah dengan detail mengenai barang yang akan kita beli.

Seorang teman berkata, "tapi bertanya itu seperti menjadi pengikat harus beli." Tidak juga. Bertanya seperti kita berbelanja di toko-toko fisik yang membuka peluang orang bertanya. Berbeda dengan market-market moderen di mana kontak tanya jawab itu minim karena semuanya seperti sudah tersedia. Baru bila barang yang kita cari itu tidak ada, kita akan bertanya kepada SPGnya. Jadi bertanya ketika berbelanja online itu satu keharusan untuk mendapatkan kepuasan ketika kita berbelanja secara daring. Dan sekali lagi, kita tidak perlu takut, kalau nantinya kita tidak merasa cocok dengan barang yang tertera di toko tersebut. Kita tinggal pilih yang lain. Tapi setidaknya kita sudah mendapatkan informasi yang lengkap mengenai barang apa yang kita akan beli.

Jumat, 18 September 2020

Wisata Petik Apel dengan Bebas Makan Sepuasnya, Hanya Ini Syaratnya!

Bagi sebagian orang yang pernah melakukan kunjungan wisata ke Kota Wisata andalan Jawa Timur yaitu Batu, Malang mungkin pernah mendengar wisata petik apel. Waktu booming pertama kali yang diselenggarakan oleh sebuah tempat wisata besar di Batu tahun 2000an orang begitu inginnya untuk merasakan bagaimana memetik apel langsung di kebun apelnya. Namun kemudian hal tersebut dibatasi, karena bisa jadi besarnya minat masyarakat yang tidak menampung keinginan banyak orang untuk praktek petik apel dari pohonnya. Tentu saat itu harus merogoh kocek yang tidak kecil. Di kemudian hari, wisata tersebut harus dibatasi.

Namun beberapa tahun belakangan ternyata wisata memetik apel langsung dari pohon ini kembali marak. Hanya sekarang penyelenggaranya pemilik lahan kebon apel itu sendiri, atau justru masyarakat yang mengadakan. Tulisan ini dibuat karena memang penulis baru pulang dari wisata memetik apel di perkebunan apel yang masuk wilayah Kota Batu.

Di Mana Lokasi Wisata Petik Apel di Batu?

Sebenarnya sudah beberapa kali saya mengunjungi petik apel di wilayah Batu ini, baik yang di sebuah tempat pariwisata besar maupun yang ada di masyarakat. Tapi saya akan bercerita mengenai yang ada di masyarakat. Lokasinya di daerah wilayah Selecta. Jadi kalau dari arah Malang atau Surabaya ke arah kanan menuju ke arah Selecta. Sebelum memasuki wilayah Selecta, di pinggir-pinggir jalan kita akan bertemu dengan tulisan yang dipampang di pinggir jalan Petik Apel. Silahkan Anda bertanya, maka mereka akan membawa Anda ke lokasi Petik Apel tersebut. Silahkan Anda tanya-tanya dengan detail, berapa karcis masuknya, dan bagaimana aturan mainnya.

Mereka akan membawa Anda ke lokasi di mana apel-apel bisa Anda petik dengan bebas. Saya sendiri sebenarnya sudah beberapa kali ke lokasi petik apel tersebut. Tapi lokasi-lokasi tersebut jangan jadi patokan karena setiap lokasi tidak selalu tersedia pohon apel yang sedang berbuah. Ini pengalaman saya hari ini. Saya pernah ke sebuah lokasi dua tahun lalu melakukan petik apel di sekitar Selecta, tapi ternyata setelah saya kunjungi sekarang, kebun apelnya sedang tidak berbuah. Makanya saya akhirnya mencari orang-orang yang bisa menunjukkan di mana kebun apel yang sedang siap dipanen.

Berapa Rupiah yang Harus Dibayar untuk Memetik Apel?

Dua tahun lalu saya membayar per orang untuk masuk ke kebun apel untuk memetik sebebasnya itu hanya Rp. 25.000/per orang. Hari ini ketika saya mengantar keluarga ke sebuah kebun apel, rupaya masih sama yaitu hanya membayar Rp. 25.000 saja per orang. Sebuah wisata yang tidak terlalu mahal kalau dibanding dengan kepuasan memasuki kebun apel yang sangat membuat riang gembira. Harga tersebut bahkan boleh dibilang murah ketika kita mengedukasi anak-anak mengenai tumbuhan apel dan bagaimana proses apel itu sendiri bisa sampai ke tangan kita dan ada di meja makan kita.

Tapi apakah tidak ada aturan lain mengenai wisata petik apel ini?

Begini, kita boleh memetik apel berapapun. Tentu saja yang harus diketahui adalah, apel yang kita petik itu adalah buah yang akan kita bawa pulang dengan membayar sesuai harga per kilonya. Jadi kalau kita karena semangat memetik lalu kita membawa sampai 10 kg, maka 10 kg itulah yang harus kita bayar dan kita bisa bawa pulang. Makanya, jangan lupa tanya terlebih dahulu kepada petugas penjaganya, berapa harga per kilo dari apel yang akan dipetik tersebut?


Seberapa Banyak yang Bisa kita Makan Apel yang Kita Petik?

Sepuasnya. Ia benar, Anda silahkan makan buah apel sesuka hati Anda, selama Anda berada di dalam kebun apel tersebut. Kalau Anda kuat bisa makan 1 kg, Anda tidak akan dihalang-halangi. Asalkan selama Anda di dalam kebun apel tersebut. Hanya untuk diperhatikan adalah, sebelum Anda menikmati buah apel yang bebas dimakan berapapun yang Anda suka, silahkan dicuci terlebih dahulu.


Senin, 07 September 2020

J*E YES, TAPI TIDAK YES


Tidak ingin bercerita dengan pengalaman-pengalaman kelam masa lalu yang dialami dalam menggunakan jasa pengiriman, tapi ingin mengungkapkan pengalaman yang benar-benar menjengkelkan, tidak mengenakkan yang baru saya alami ketika menggunakan jasa pengiriman J*E YES. Karena ingin segera menggunakan sebuah alat yaitu adaptor yang dibeli dari sebuah toko online di bawah salah satu e-commerce di Indonesia akhirnya saya memilih menggunakan jasa J*E YES. Alat itu sebenarnya akan digunakan untuk mengikuti sebuah kompetisi oleh pemesannya. 

Kisahnya dimulai oleh tiga orang yang minta dibelikan adaptor khusus dan setelah saya mencari sana-sini di sebuah e-commerce akhirnya menemukan sebuah toko yang harganya miring di Semarang. Karena yang memesan ingin segera sebagai uji coba untuk mengikuti sebuah kompetisi, maka saya ingin barang tersebut menggunakan jasa pengiriman yang cepat. Dan pilihan yang tersedia adalah J*E YES. Si penjual menyanggupi bahwa akan segera mengirimkan paket barang tersebut.

Saya melakukan pembayaran untuk transaksi tersebut pada tanggal 2 September pukul 9,41 WIB degan harapan paket tersebut segera dikirim pada hari itu juga. Dan benar, penjual rupanya mengerti betul dengan pilihan jasa pengiriman menggunakan J*E YES yang artinya butuh cepat. Maka di hari itu juga paket tersebut dikirim dan diterima pada pukul 23.41 sudah ada di Sorting Center J*E Semarang untuk siap dikirim ke alamat saya. Sebenarnya beberapa kali saya menggunakan jasa J*E YES ini dan saya tidak perlu menerangkan karena tentu saya tidak ada bukti-bukti lagi untuk menceritakan di sini. Singkat cerita sekarang saya tinggal menunggu tapi juga memantau di aplikasi di aplikasi toko online di mana saya memesan.

Pemantauan saya berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman yang memesan. "Apakah sudah datang?". Saya tidak terlalu berharap banyak paket tersebut akan datang esok paginya tanggal 3 September, tidak mungkin. Tapi harapan saya sore atau malam. Hal tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman beberapa kali menggunakan J*E YES ini. Setelah pemantauan menunjukkan pergerakan paket tidak beranjak dari Semarang hingga sore dan malam pada tanggal 3 September pukul 17.00 WIB sore hari membuat saya mulai tidak sabar mendapat pertanyaan pemesan. 


Semakin pesimis karena tanggal 3 pukul 21.00 ternyata masih transit di Surabaya, maka buyarlah harapan saya paket akan segera diterima di Malang dan saya harus menjelaskan kepada pemesan dengan alasan-alasan yang saya buat dan cenderung tidak jelas. Tapi untuk menghibur diri maka, saya cek lagi di mana sebenarnya batas pengiriman J*E YES sampai pukul 23.59 WIB, maka dengan gusar saya tidur dengan tidak tenang.

Maka saya menunggu paket dengan J*E YES pada pagi hari dengan harapan mereka pagi-pagi akan ke rumah dan mengantar di depan pintu pada tanggal 4 September itu. Bangun pagi saya langsung melakukan pengecekan pergerakan paket dengan J*E YES yang tidak lagi YES itu dan rupanya 00,08 tanggal 4 September baru tiba di Warehouse J*E Malang. Saya menunggu paket yang sudah telat itu, tapi benar-benar kekecewaan yang saya terima.

Tanggal 4 September pukul 02.09 paket tersebut dikirim ke J*E Pajajaran Malang dan entah paket tersebut statusnya tidak jelas lagi karena jam 11.04 barang yang saya harap tersebut penjelasannya ada di kurir. Penjelasan ini bagi saya membingungkan, karena sampai pukul 12.51 rupanya ada di Inbound Station Malang dan belum ada tanda-tanda sudah dibawa oleh kurir ke rumah.

Akhirnya kelalahan menunggu J*E YES yang sudah tidak YES itu membawa frustasi. Karena sampai pukul 15.00 paket itu belum datang dan sebenarnya saya sudah tidak perduli lagi dengan paket itu karena dikhianati oleh J*E. Tiba-tiba pukul 15.20, kurir J*E datang membawa paket tersebut dan seperti tanpa merasa bersalah dia menyampaikan paket tersebut kepada saya. Mungkin dia berharap saya ingin bilang terima kasih. Tapi buru-buru dia ingin cepat pergi, tapi secepat kilat saya mempertanyakan, kenapa paket ini terlambat?

Anda ingin tahu jawaban dari kurir sekelas J*E? Ia menjawab, "Waduh, saya tidak tahu." 

Saya sebenarnya tidak ingin mengejar jawabannya itu. Tapi saya tahu bahwa beginilah cara J*E mendidik kurirnya yang kelimpungan karena sebelum dia menyerahkan kepada saya, dia melihat dulu kalau paket tersebut merupakan paket prioritas, tapi ternyata menjadi paket dengan kelas regular. Tapi lebih dari itu tidak ada kata sedikitpun kata minta maaf. Kata maaf menunjukkan sebuah kesalahan, tetapi bila tidak ada kata itu, sama artinya kasus tersebut sebagai kasus biasa, yang di dalamnya tidak ada kesalahan sama sekali. Bagi saya pengalaman ini menjadi pengalaman yang berharga dalam mempertimbangkan kembali menggunakan J*E apalagi J*E YES.

Selasa, 01 September 2020

Maaf ya Kakak, atas Ketidaknyamanannya



Panggilan kakak tentu sudah tidak asing lagi kita dengar ketika kita berhubungan dengan pasar khususnya pasar melalui daring. Sering kali panggilan kakak itu menjadi panggilan netral oleh penjual kepada pembeli. Kalau kita panggil 'mas' ia kalau pembeli itu laki-laki, dipanggil 'mbak' juga demikian. Demikian juga bila dipanggil dengan penghormatan seperti 'bapak' atau 'ibu' oleh sebagian orang dianggap menjadikan usia tua seseorang. Jadi, sapaan 'kakak' benar-benar sapaan yang menjadikan komunikasi sangat lancar, tanpa ada hambatan dalam masalah presepsi mengenai seseorang.

Seorang ibu yang memesan makanan secara daring merasa senang ketika sang penjual menghubunginya untuk memastikan pesanan yang dipilih oleh sang ibu. Si penjual menyapanya, 'kakak' walaupun sang ibu tadi sudah berumur hampir kepala lima. Sang ibu bukannya merasa tersinggung dipanggil sapaan kakak, malahan ia merasa menjadi muda kembali. Sampai sebegitu besar pengaruhnya terhadap seseorang ketika panggilan kakak digunakan. Si ibu tadi hanya bercerita, "Aduh, saya dipanggil kakak, jadi kayak anak muda lagi ini."

Sebenarnya menarik juga kebiasaan baru ini di dunia perdagangan antara pembeli dan penjual khususnya di jual beli online. Padahal kalau kita mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di mana kata kakak itu bermakna; saudara tua, panggilan kepada orang (laki-laki atau perempuan) yang dianggap lebih tua; panggilan kepada suami. Namun dunia transaksi online dalam dialog untuk mencairkan suasana tentu saja tidak berpatokan dengan hal tersebut. Karena kakak telah menjadi ikon panggilan yang membuat semuanya merasa nyaman dan tidak canggung.


Kakak akhirnya bisa digunakan oleh mereka yang lebih tua kepada yang lebih muda, apalagi yang lebih mudah kepada yang lebih tua. Panggilan kakak merobohkan sekat-sekat perbedaan usia antara pembeli dan penjual, membuat nyaman baik yang menggunakannya maupun yang dipanggil. Semuanya menjadi tidak canggung.

Panggilan kakak benar-benar menjadi sebutan yang bisa digunakan dalam ruang gelap dalam arti dua pihak tidak mengerti sama sekali keadaan masing-masing, sehingga mereka menggunakan kata kakak untuk menjadi penyambung hubungan awal. Bila hal tersebut merasa nyaman di masing-masing pihak maka panggilan itu akan diteruskan.

Sebutan kakak yang secara makna bisa saja melangkahi adat kesopanan karena hal itu menghilangkan siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda. Tapi karena ya itu tadi berada di ruang yang gelap maka panggilan kakak menjadi sapaan yang menyenangkan. Bahkan dalam situasi yang penuh emosi karena ada persoalan dalam hubungan jual beli dan hubungan bisnis tersebut akan menjadi reda karena sapaan ini. Penjual hanya bilang, Maaf ya kakak, atas ketidaknyamanannya.

Semua Marketplace Ingin Anda Menjadi Pelanggannya


Kalau Anda ditanya, marketplace atau website toko online mana bila Anda diminta untuk berbelanja? Kalau Anda menyebutkan sebuah toko online, maka artinya Anda yang sering berbelanja di tempat marketplace yang disebutkan tadi. Tentu bila ditelisik lebih dalam lagi mengapa Anda meyebutkan toko online tersebut? Maka pastilah Anda bisa memberikan alasan-alasan yang membuat Anda jatuh cinta dengan marketplace tersebut. Dan yakinlah bahwa semua marketplace ingin Anda menjadi pelanggan setianya. Kalau bisa setiap kebutuhan Anda larinya ke marketplace tersebut.

Menentukan marketplace menjadi pilihan favorit tentu bukanlah ujug-ujug jatuh cinta dan langsung menjadi pilihan utama. Memang tidak semua orang punya marketplace favorit. Ada yang loncat sana loncat sini. Tapi tentu saja pastilah ada marketplace yang menjadi jujugan bila dia ingat sesuatu yang dibutuhkan. Berdasarkan pengalaman saya, berbelanja online di marketplace. Awalnya saya berpindah-pindah dari satu marketplace satu ke marketplace lainnya, sampai akhirnya menambatkan di sebuah marketplace tertentu. Tapi saya ingin bercerita kenapa saya cenderung berpindah-pindah ketika melakukan pembelanjaan online di marketplace?

Berkenalan dengan sebuah marketplace dan mencoba berpengalaman untuk melakukan pembelanjaan elektronik. Awalnya saya kesengsem dengan penawaran diskon dan ongkir gratis. Setelah mencoba ternyata diskon dan penawaran gratisnya sedikit ribet untuk ditelusuri. Ribet terkadang masalah sepele di mana kita maunya yang mudah. Kalau memang diskon ya sudah langsung saja tanpa menggunakan kode dan otomatis langsung ketika melakukan klik pembelian. Akhirnya, sekali lagi karena tidak mau ribet ya sudah tidak jadi membeli di marketplace tersebut.

Sebenarnya kalau bisa kita disodorkan pilihan dalam aplikasi marketplace tersebut. Jadi, seperti pilihan, apakah ingin menggunakan ongkir gratis atau tidak. Apakah menggunakan diskon atau tidak. Apakah ingin mendapatkan point atau tidak. Tapi kalau ribet maka terkadang kita sudah mundur teratur sebelum berperang untuk berbelanja. Walau begitu ada kalanya orang memang mendalami betul dan punya niat untuk berburu, baik poin, diskon, dan ongkor gratis. Kalau bisa tiga-tiganya bisa didapat. Bila dianggap mudah dalam melakukan pencarian keuntungan tersebut, maka pastilah si dianya akan kembali dan bahkan memutuskan untuk menjadi jujugan. Bila orang sudah menganggap sebuah marketplace sudah menjadi jujugan, itulah yang diharapkan setiap pengelola website toko online. Orang bisa menjadi pelanggannya.

Terkadang saya kecentok (bisa disebut pengalaman tidak mengenakkan sehinggan enggan untuk kembali) dengan sebuah toko online. Pengalaman saya banyak penyebabnya. Bisa jadi karena toko online tidak bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Pengalaman berbelanja tidak mengenakkan ketika terlibat konflik online dengan penjual yang tidak ramah (padahal toko online tidak tahu menahu mana penjual yang ramah dan mana penjual yang galak, mana penjual yang jujur dan mana penjual yang kurang jujur dan seterusnya). 

Tapi taunya saya sebagai pembeli kan kita ingin berbelanja dengan senang hati dan bahagia tanpa menemui persoalan atau masalah dengan siapapun. Kita menganggap penjual sama dengan pemilik toko online. Walaupun sebenarnya bukan seperti itu situasinya. Marketplace hanya penyedia tempat, sedangkan pemakai tokonya adalah orang lain dengan segala macam corak dan karakter. Di sinilah seleksi penjual sangat dibutuhkan dan aturan yang ketat diberlakukan kepada penjual. Itu harapan kita sebagai pembeli.

Tapi kembali kepada pilihan untuk berbelanja secara online yang paling penting adalah pengalaman yang mengenakkan, kemudahan yang didapatkan serta keuntungan bonus yang diperoleh menjadi hasil akhir mengapa saya akhirnya membeli di sebuah toko online langganan saya. Makanya kembali kepada pertanyaan awal, toko online apa kalau Anda diminta untuk berbelanja online? Maka jawabannya pastilah beragam. Masa pembeli inilah yang menjadi rebutan toko-toko online yang mulai marak di negeri ini.

Senin, 24 Agustus 2020

Cara Mengembalikan Barang yang Bermasalah Ketika Belanja Online

Pernahkah Anda menerima barang pesanan Anda yang ternyata bermasalah? Bisa jadi barangnya jumlahnya kurang, atau penjual keliru dalam pengiriman dari segi salah barang? Setidaknya dalam dua minggu ini saya mengalaminya dua kali. Pertama saya membeli buku dan ternyata jumlahnya kurang. Sementara pengalaman yang waktunya tidak terlalu lama dari pengalaman pertama saya membeli busa peredam 10 lembar tapi ternyata hanya dikirim 5 lembar tapi justru malah dikirim barang lain yang walaupun harganya tidak terpaut jauh, tapi barang tersebut tidak saya butuhkan. Tentu kedua kasus tersebut memang beda perlakuan. Tapi yang penting, jangan panik, jangan takut dan jangan langsung emosi. Semuanya ada jalan keluarnya. Saya akan menceritakan pengalaman saya ini untuk menjadi contoh bagaimana saya menyelesaikan persoalan kesalahan barang yang diterima.

Dalam kasus pertama di mana saya membeli 20 eksemplar buku dengan beraneka ragam judul. Ada dua buku dengan judul yang sama tapi beda tahun terbitan. Setelah paket datang dan saya membukanya untuk menjadi laporan dan bukti kalau paket dari penjual sudah saya terima. Tapi ketika dihitung ternyata bukunya kurang satu judul. Harganya memang tidak terlalu besar yaitu Rp.35.000 tapi tentu saja ada sedikit kecewa. Namun karena toko yang saya beli di e-commerce tersebut merupakan toko langganan dan seringkali saya diberi bonus buku-buku lainnya yang tidak saya pesan, maka saya anggap selesai supaya duitnya bisa segera diserahkan kepada penjual. Namun demikian, saya segera menghubungi penjual lewat chating internal di tokonya untuk memberitahu kekurangan pesanan. Setelah saya mengirimkan foto dan bukti berupa gambar seluruh buku dengan minus buku yang belum dikirim maka akhirnya penjual mau mengirimkan segera buku yang kurang tersebut. Persoalan selesai.

Tapi, selang tidak lama dari kejadian kasus buku tersebut saya dikejutkan oleh paket yang ketika dibuka membuat saya sedikit emosi karena ketidaklengkapan pesanan saya di paket tersebut. Saya membeli 5 spon kedap suara untuk studio. Sebenarnya pesanan saya memang lima item spon, tapi per itemnya terdiri dari dua lembar. Jadi seharusnya yang saya terima sebanyak 10 lembar. Tapi ternyata yang datang hanya 5 lembar. Walaupun dalam paket itu ada dua gelondongan, tapi justru saya dikirimkan filter yang tidak saya pesan. Tentu saja saya tidak membutuhkan filter itu.

Saya kecewa sekali dengan kiriman yang salah ini, karena bukan hal sederhana cara penyelesaiannya. Perlu diketahui bahwa pengiriman busa kedap suara itu ketika dikirim oleh penjual sudah dipres hingga menjadi kecil. Tentu tujuannya supaya volumenya paket menjadi lebih kecil. Sekarang, saya komplain kepada penjual dengan sedikit emosi atas kesalahan ini. Karena selain barang itu segera akan dipakai, tapi juga ada proses di mana barang yang keliru itu harus dikembalikan supaya barang yang kurang segera dikirim kembali kepada saya.

Di penerimaan barang oleh pembeli saya melakukan komplain dengan berbagai alasan dan bukti-bukti paket. Pihak e-commerce ternyata berbaik hati menerima komplain saya dan saya berunding dengan pihak penjual. Pihak penjual sendiri juga melakukan penyelidikan ekspedisi dan karyawannya di bagian pengiriman dan dari fakta-faktanya memang ada kesalahan pengiriman. 

Saya sendiri sebenarnya putus asa karena kalau saya mengirimkan kembali ke pihak penjual maka tentu saya harus mengepak spon filter yang mengembang itu dengan cara dikecilkan. Kalau penjualnya punya alat lengkap untuk mengepres spon, sedangkan saya, harus manual dengan penuh perjuangan. Bayangkan ongkir ke Jakarta dari barang tersebut dengan menggunakan yang paling murah sebesar Rp. 70.000. Dengan sedikit memaksa supaya ongkir pengiriman karena kesalahan penjual itu ditanggung oleh penjual, akhirnya dalam diskusi tersebut disetujui.

Setelah selesai dikirimkan saya melaporkan ke pihak e-commerce bahwa pengiriman barang kembali sudah dilakukan dengan bukti resi pengiriman dan foto barang. Dan pihak e-commerce terus memantau perkembangan komplain tersebut. Sebelum penjual barangnya belum saya terima maka uang dari pembeli dalam status dikomplain dan belum bisa diserahkan kepada penjual. Sekarang, saya masih menunggu paket kedua dari kekurangan barang tersebut.


Diskripsi Barang, Seberapa Pentingkah?


Ketika seseorang mencari barang di supermarket, hypermarket, toko kelontong dan toko-toko tetangga, semua pancaindra kita akan bekerja. Mata akan mengawasi warna, corak, bentuk dan pola dari barang yang sedang diincar tersebut. Sementara rasa yang bisa diwakili oleh tangan, kulit dan seluruh badan akan mencoba sebenarap cocok dengan impian yang sedang diidam-idamkan? Kalau barang seperti headphone, earphone yang masih segel, tentu tidak bisa dicoba. Tapi terkadang ada toko yang menyediakan contoh untuk bisa dicoba. Kalau ponsel yang suka dengan suara keras akan mencobanya sambil memasang telinga baik-baik bagaimana merdu, enak, ngebas dan seterusnya dari suara yang keluar dari alat tersebut. 

Pokoknya, begitu sederhananya untuk memberitahu keadaan barang yang sedang ditimang-timang oleh calon pembeli. Tapi bagaimana dengan pembelian barang secara online? Semua informasi mengenai barang tersebut selain sudah pernah didengar sebelumnya oleh calon pembeli, tapi andalan kelebihan dari barang yang ditawarkan didapat dari diskripsi mengenai barang tersebut.

Kejelasan diskripsi atau penjelasan mengenai barang yang sedang dipajang itu sangat berarti bagi pembeli. Karena dari situlah pembeli nantinya bisa mengambil keputusan membeli atau mencari barang lainnya dan berpindah dari toko online kita. Bila diskripsi yang disampaikan di toko kita kurang jelas, maka saya sebagai pembeli bertambah tidak jelas. Karena diskripsi itu seperti menjadi panduan untuk membawa saya akhirnya mengeluarkan fulus untuk melakukan transaksi. 

Diskripsi itu ibarat mewakili kita untuk melihat barang yang sedang ditawarkan. Pembeli mempertaruhkan kepercayaan dengan penjual 1000 persen bahwa barang yang akan dikirim sesuai dengan apa yang sedang dilaporkan. Nah, kalau penjual tidak bisa memberikan diskripsi secara lengkap, maka saya tentu akan beralih ke toko lain untuk mencari kejelasan lebih lanjut. 

Tentu saja diskripsi itu harus jujur sejur-jujurnya. Karena kalau tidak, maka akan menjadi bumerang yang mencelakakan bisnis penjual. Mengapa? Kalau diskripsi kita yang sudah disertai foto lengkap dari barang yang ditawarkan, dengan pengambilan foto yang sangat bagus, tapi ketika barang diterima oleh ternyata tidak sesuai dengan diskripsi yang disampaikan, maka saya sebagai pembeli tentu akan melakukan unjuk rasa berupa protes. Caranya bagaimana? Dengan memberikan bintang 1, dan lebih dari itu juga akan disampaikan dengan protes yang bisa saja menjatuhkan toko.

Jadi, diskripsi barang rupanya harus berbanding lurus dengan keadaan barang yang sebenarnya. Kalau memang barang yang kita jual adalah barang bekas, sampaikan bahwa itu barang bekas. Kalau barang yang kita jual adalah barang cacat produksi, sampaikan bahwa keadaannya seperti itu dan seterusnya. Jadi diskripsi adalah keadaan real barang yang akan kita jual.