Hadapi Omicron dengan Vaksin, Tapi Adakah Efek sampingnya? - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera

Hadapi Omicron dengan Vaksin, Tapi Adakah Efek sampingnya?


Terkadang terdengar kabar efek samping dari vaksin yang mengerikan. Bahkan juga terdengar seorang kawan orang luar berbicara sama sehingga takut vaksin. Sebenarnya apa saja efek samping vaksin itu ada, dan apakah ada bukti-bukti yang bisa dilihat langsung efek samping vaksin covid-19?

Vaksin tentu saja dihasilkan dari sebuah penelitian dan uji coba. Seperti halnya jenis-jenis vaksin lainnya yang biasa digunakan untuk kita. Demikian juga vaksin Covid-19 yang tujuannya untuk kekebalan tubuh terhadap virus covid-19 yang sudah menyebar di seantero dunia tersebut, termasuk dalam menghadapi Covid-19 varian Omicron. 

Dalam sebuah penelitian yang diulas oleh CNBC Indonesia mengenai efek samping vaksin lebih kepada efek placebo dan nocebo. Efek samping placebo yaitu lebih kepada sugesti negatif, sementara nocebo yaitu efek di mana perasaan tidak nyaman setelah mendapatkan suntikan vaksin.

Tapi kembali kepada varian Omicron di mana seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia yang mengutip Kepala Asosiasi Medis Afrika Selatan Angelique Coetzee sekaligus dokter yang pertama kali menangani kasus Covid-19 varian Omicron mengatakan bahwa gejala covid Omicron pada orang yang sudah divaksin relatif ringan dan tidak memiliki komplikasi. Bahkan menurut Coetzee, pasien tidak perlu penanganan rumah sakit.

Walaupun hal ini diakuinya masih terlalu awal, setidak-tidaknya masih menurut Coetzee, ke depannya memberi harapan yang menggembirakan. 

Walaupun seperti diakuinya oleh dokter yang pertama kali menangani pasien Covid-19 dengan varian Omicron masih terlalu awal apa yang ditemuinya itu, tapi setidak-tidaknya vaksin memiliki manfaat yang sangat besar bagi seseorang untuk bisa menangkal virus varian baru tersebut.

Tapi mungkin muncul pertanyaan, "Ah, banyak orang yang sudah vaksin tapi kena juga!" Tentu sajaada kasus-kasus di mana orang yang sudah melakukan vaksin tapi bisa terkena juga. Dan anehnya sebagian orang justru lebih perhatian dengan kasus-kasus kecil seperti itu dengan melupakan manfaat yang dirasakan oleh mereka yang sudah melakukan vaksin. Hal tersebut juga ditemui oleh penulis ketika berinteraksi dengan beberapa orang.

Kesempatan untuk melakukan dialog dengan beberapa tukang yang berasal dari kampung, jauh dari perkotaan yang memiliki pandangan anti vaksin, membuat saya bertanya-tanya, informasi apa yang sudah diterima sehingga menolak vaksin Corona di masa pandemi COVID-19? 

Pertanyaan saya langsung kepada mereka, mengapa kok tidak mau divaksin? Jawabannya beragam. Tapi yang membuat saya kaget adalah, berdasarkan katanya, takut mati, karena katanya ada yang divaksin setelah itu mati. Karena saya masih punya anak dan istri, saya masih jadi tulang punggung keluarga.

Saya jawab, yang mati karena divaksin itu di mana? Kejadiannya kapan? Berapa orang yang meninggal karena vaksin. Dia sendiri tidak bisa menjawab, dan dia hanya menceritakan bahwa ia hanya mendengar dari kata orang. Barulah saya bercerita ibu saya di Surabaya yang sudah tua, tapi dia bisa lolos dari Corona walaupun kanan kirinya banyak yang kena virus.

Informasi yang saya sampaikan itu mungkin kedudukannya sama yaitu berdasarkan katanya. Sebagai orang yang menyetujui vaksin dan sudah divaksin, tentu saja saya berusaha untuk mempengaruhi orang lain supaya mau divaksin.

Tapi, rupanya menarik juga bahwa bukan hanya beberapa tukang yang saya temui yang 'emoh' untuk divaksin, seorang ibu yang saya kenal mengaku tidak mau divaksin. Alasannya berbeda dengan tukang tadi. Ia mengatakan, "Alah, mertua saya walaupun sudah divaksin bahkan sudah dua kali, tetap saja kena virus Corona dan sangat parah. Lalu apa gunanya vaksin." Demikian kira-kira argumennya. 


Menjawab alasan ibu tadi, saya hanya punya pengalaman yaitu ibu saya yang sudah divaksin dan dia sampai saat ini tidak terkena virus Corona walaupun di kanan kirinya terkena virus.

Saya menambahkan argumen saya supaya lebih kuat dengan mengatakan, "Kita ini kenapa alergi dengan vaksin, bukannya kalau kita punya anak dari lahir sudah dikenalkan dengan vaksin. Ada vaksin campak dan deteran vaksin-vaksin lainnya yang sudah biasa kita dengar dan anak kita tentu kita vaksin untuk mengantisipasi penyakit. 

Nah,vaksin Corona juga seperti itu, kenapa kita alergi vaksin Corona? Padahal vaksin itu sebagai cara untuk mengantisipasi bila kita terkena virus Corona.

Akhirnya, tugas pemerintah memang cukup berat untuk meyakinkan masyarakat betapa pentingnya vaksin dengan memberi penjelasan bahwa vaksin aman bagi kita. Tapi di sisi lain ternyata ada persoalan juga dengan vaksin ini, yaitu, bagaimana masyarakat yang sudah sadar pentingnya vaksin harus berjuang untuk mendapatkannya. Ini terjadi pada awal-awal. Sekarang semoga menjadi berubah dan mudah mendapatkan vaksin. 

Kemudahan mendapatkan vaksin bisa menjawab mereka yang apatis dengan vaksin karena kesulitan untuk berburu vaksin juga sangat mudah. Setidak-tidaknya ini juga yang dialami oleh seseorang yang karena dia harus sering ke luar kota, tapi dia sendiri ogah untuk vaksin. Dia khawatir nanti bukti sudah divaksin melalui pedulilindungi menjadi syarat perjalanan.

Begitu rumitnya memang menghadapi virus Corona ini bagi semua orang. Semoga kita diberi kesehatan dan terhindar dari virus Corona ini.
Hadapi Omicron dengan Vaksin, Tapi Adakah Efek sampingnya? Hadapi Omicron dengan Vaksin, Tapi Adakah Efek sampingnya? Reviewed by Hati Kita on 15.07 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.