Pemandangan politik di Inggris kerap kali membuat kita mengernyitkan dahi sekaligus kagum. Bagaimana mungkin seorang Perdana Menteri, yang diusung dengan susah payah oleh partainya sendiri, justru dipaksa mundur oleh rekan separtainya ketika kinerjanya dinilai melenceng dari harapan publik?
Di Indonesia, dinamika sebaliknya justru lazim terjadi. Partai pengusung sering kali bertindak bak benteng kokoh yang membela kebijakan pemimpin mati-matian, terlepas dari apakah kebijakan tersebut menuai polemik atau ditolak mayoritas rakyat. Mengapa ada jurang pemisah yang begitu dalam antara budaya politik di sana dan di tanah air?
Benturan Demokrasi Modern dan Warisan Kultur Hierarki
Secara prosedural, Indonesia telah mengadopsi perangkat demokrasi modern. Kita memiliki pemilu berkala, institusi parlemen, hingga kebebasan berpendapat. Namun secara substansial, "software" berpikir kita sering kali masih digerakkan oleh memori kolektif masa lalu: budaya hierarki paternalistik dan mentalitas patron-klien.
Institusi modern seperti partai politik kerap dikelola layaknya faksi kerajaan baru, di mana loyalitas kepada figur sentral (sang "raja") berada di atas segalanya. Akibatnya, alih-alih menjadi alat kontrol kekuasaan (checks and balances), partai pengusung kerap terjebak dalam misi mengamankan previlese dan citra sang pemimpin demi investasi politik jangka pendek.
Memutus Rantai Politik Bansos dengan Pendidikan dan Ekonomi
Mengapa masyarakat belum sepenuhnya menghukum partai atau pemimpin yang berkinerja buruk? Akar masalahnya berkelindan pada dua faktor krusial: tingkat ekonomi dan kualitas pendidikan.
Ketika kesejahteraan ekonomi belum merata, masyarakat rentan terjebak dalam pragmatisme politik. "Rayuan" bantuan sosial (bansos) atau janji instan mudah membius pemilih bawah yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan esensial sehari-hari. Politik akhirnya dikerdilkan menjadi sekadar transaksi jangka pendek, bukan ruang adu gagasan jangka panjang.
Masyarakat menjadi mudah diarahkan bak kerbau dicucuk hidung oleh narasi pencitraan yang megah namun semu. Pemimpin dinilai dari seberapa "hebat" kemasan visualnya di media sosial, bukan dari dampak nyata kebijakan yang dilahirkannya.
Jalan Panjang Menuju Kematangan Demokrasi
Kasus mundurnya PM Inggris memberikan pelajaran berharga bahwa kedewasaan politik dicapai ketika partai menempatkan ideologi dan kepentingan publik di atas keselamatan satu orang figur.
Namun, kedewasaan elit politik tidak akan lahir di ruang hampa. Ia harus dipaksa tumbuh dari bawah melalui:
1. Peningkatan Kemandirian Ekonomi: Masyarakat yang mandiri secara finansial tidak akan mudah goyah atau disetir oleh insentif bansos menjelang pemilu.
2. Kemajuan Pendidikan yang Merata: Pendidikan yang memerdekakan nalar akan melahirkan pemilih yang melek politik (politically literate), mampu membedakan antara kerja nyata dan sekadar bangunan citra.
Pada akhirnya, mematangkan demokrasi adalah investasi waktu. Ketika masyarakat kelas menengah tumbuh semakin kritis, berpendidikan, dan sejahtera, mereka tidak lagi bisa dibingungkan oleh intrik politik pasca-kebenaran. Di titik itulah, kita akan melihat fajar baru di mana partai politik di Indonesia berani bersikap ksatria demi rakyat, bukan sekadar demi mengamankan takhta.
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
18.13
Rating:

Tidak ada komentar: