Kartolo CS Pengantar Tidur yang Tak Pernah Membosankan

Selasa, 05 Januari 2021

Kartolo CS Pengantar Tidur yang Tak Pernah Membosankan

Gambar Hanya Ilustrasi Suasana Luduk

Bagi masyarakat Jawa Timur generasi tahun 80-90an mungkin tidak asing lagi dengan Ludruk terkenal dari Surabaya yaitu Kartolo CS. Lawakannya yang mengambil cerita kehidupan sehari-hari benar-benar tak lekang oleh waktu. Tokoh-tokoh yang tidak bisa dipisahkan selain Cak Kartolo sendiri, ada Kastini, Cak Sokran, Cak Baseman, Cak Sapari. Selain juga sering juga muncul tokoh-tokoh yang tidak asing lagi seperti, Cak Blonthang, Cak Munawar, Sus Metty, Cak Joto, Buk Marlena, Cak Kancil, Cak Subur, Cak Yakin, Maryam atau Karjo. Lawakan mereka dahulunya diputar di beberapa radio swasta di beberapa daerah di Jawa Timur, kini audionya bisa didengar melalui channel Youtube dan atau layanan Sportify dan di beberapa media.

Admin sendiri sebenarnya pada jaman tersebut belum pernah mendengar, karena saat itu belum mengenalnya. Baru setelah tahun 2000an secara tidak sengaja mendengar lawakan melalui stasiun radio swasta di Malang. Sejak saat itu lawakan Kartolo menjadi bagian rutin yang selalu didengar. Menariknya, sebenarnya lawakan Kartolo ini bukan hanya saya yang menikmati. Karena dalam beberapa pertemuan dengan penyuka Kartolo, juga mengoleksi lawakannya yang hampir mencapai seratus cerita. Masih menurut teman saya itu, lawakan Kartolo itu disimpan dalam hp jadulnya. Ia selalu diputar ketika menjelang tidur dengan menggunakan headset.

Memangnya tidak membosankan mendengar audio lawakan yang sudah tahu alur ceritanya karena selalu didengarnya itu? "Tidak," katanya. Setiap kelucuan yang sama selalu mendatangkan tawa yang tidak habis-habisnya. Sebenarnya cerita teman saya itu tidak jauh berbeda dengan pengalaman admin yang juga selalu mendengar cerita lawakan Kartolo ketika menjelang tidur. 

Inilah kelebihan dari lawakan Kartolo dalam cerita-cerita harian yang bisa disaksikan di masyarakat. Sebagai sebuah lawakan tradisional dari Jawa Timur lawakan Kartolo dalam bentuk Ludruk ini memang menunggu penggantinya saat ini. Lawakan yang sederhana namun tak lekang oleh waktu dan gempuran berbagai tampilan budaya luar yang memang tidak bisa untuk dibendung. Atau lawakan Kartolo ini menjadi sisa-sisa kejayaan Ludruk karena ditinggal oleh masyarakat yang telah membesarkannya dulu? 

 

0 komentar:

Posting Komentar