Pendahuluan
Di era informasi dan media sosial, istilah intelektual sering dipakai untuk menyebut siapa saja yang memiliki pengetahuan atau tampil di ruang publik. Namun bagi Edward Said, intelektual tidak diukur dari gelar, lembaga, atau status sosial. Intelektual adalah suara moral yang terus menjaga jarak kritis dari kekuasaan, mempertahankan independensi, dan berani mengkritik ketika kebenaran dikaburkan.
Untuk menjelaskan apa itu intelektual sejati, Said menunjuk pada dua figur yang hidup jauh sebelum modernitas: Sokrates dan Yesus. Keduanya bukan hanya tokoh filsafat atau agama, melainkan model universal tentang keberanian moral, integritas, dan kesetiaan kepada kebenaran yang lebih tinggi daripada kepentingan pribadi atau struktur kekuasaan.
Gagasan Edward Said: Intelektual sebagai Suara Moral
Bagi Edward Said, intelektual sejati harus memenuhi tiga prinsip:
1. Independensi moral dan intelektual
Bebas dari tekanan politik, institusi, atau popularitas.
2. Keberanian untuk berkata benar
Meskipun berisiko menimbulkan ketidaknyamanan atau penolakan.
3. Tanggung jawab publik
Intelektual bukan orang menara gading, ia hadir untuk membela mereka yang dilemahkan oleh sistem.
Intelektual adalah mereka yang menghadap kekuasaan dengan kata-kata yang jujur dan berpihak pada kebenaran, bukan pada kepentingan.
Dua figur terbaik untuk memahami prinsip ini adalah Sokrates dan Yesus.
Sokrates: Teladan Intelektual yang Mengusik Demi Kebenaran
1. Mengguncang Kemapanan
Sokrates dikenal karena satu hal: ia bertanya tanpa lelah. Dalam proses itu, ia mengungkapkan ilusi pengetahuan para pemimpin, politisi, dan orang terhormat di Athena. Baginya, tugas intelektual adalah mengusik agar masyarakat tidak terjebak dalam kepalsuan.
Inilah yang disebut Said sebagai the unsettling voice, suara yang mengganggu kenyamanan demi kebenaran.
2. Tidak Mencari Popularitas
Sokrates tidak pernah berminat menjadi bagian dari kekuasaan. Ia menolak jabatan publik karena tahu kedekatan dengan kekuasaan dapat merusak integritas. Independensinya adalah ciri pokok intelektual sejati.
3. Membayar Harga yang Mahal
Ketika akhirnya dijatuhi hukuman mati, Sokrates tidak lari atau meminta keringanan. Ia menerima hukuman demi menjaga konsistensi moralnya.
Edward Said memandang sikap ini sebagai puncak keberanian intelektual: lebih memilih kebenaran daripada keselamatan pribadi.
Yesus: Figur Moral yang Menantang Kekuasaan dan Membela Yang Lemah
1. Melawan Struktur Kekuasaan yang Tidak Adil
Yesus, sebagaimana dibaca oleh Edward Said, adalah tokoh publik yang berani mengkritik struktur kekuasaan yang menindas—baik politik maupun keagamaan. Ia menegur kemunafikan, membongkar manipulasi moral, dan menolak tunduk pada sistem yang merugikan manusia kecil.
Baginya, kebenaran moral lebih tinggi daripada legitimasi institusi.
2. Solidaritas dengan Mereka yang Tak Punya Suara
Yesus hadir di antara kaum marginal: orang sakit, miskin, perempuan, dan mereka yang dianggap tidak suci oleh masyarakat. Sikapnya menunjukkan prinsip bahwa intelektual bukan hanya berbicara tentang keadilan, tetapi membersamai mereka yang tertindas.
Ini sangat sesuai dengan ideal intelektual Edward Said:
intelektual harus berpihak pada yang tidak punya akses pada kekuasaan.
3. Konsistensi yang Berujung pada Pengorbanan
Seperti Sokrates, Yesus juga membayar harga atas konsistensinya. Penyaliban menjadi bukti bahwa ketika seseorang menempatkan kebenaran di atas segalanya, kekuasaan akan merasa terancam.
Said melihatnya sebagai figur keberanian moral tertinggi: keteguhan pada nilai kemanusiaan tanpa kompromi.
Mengapa Edward Said Memilih Sokrates dan Yesus?
Ada tiga alasan utama:
1. Keduanya tidak terikat pada lembaga
Mereka bergerak sebagai suara bebas, bukan sebagai pejabat, imam, atau pejabat negara.
2. Keduanya mengkritik kekuasaan dari luar sistem
Kritik yang muncul dari independensi personal lebih kuat daripada kritik atas nama institusi.
3. Keduanya rela menanggung risiko besar
Kematian mereka menunjukkan bahwa membela kebenaran sering kali berarti melawan arus.
Dalam perspektif Edward Said, inilah “intelektual sejati”:
mereka yang hidup untuk kebenaran, bukan untuk kenyamanan.
Pelajaran untuk Intelektual di Era Modern
figur Sokrates dan Yesus mengajarkan beberapa hal penting:
• Berpikir kritis tanpa kompromi
Jangan takut mengajukan pertanyaan yang mengganggu.
• Menjaga jarak dari kekuasaan
Akses bukan alasan untuk kehilangan independensi.
• Keberanian untuk tidak populer
Suara moral sering tidak disukai, tetapi tetap diperlukan.
• Membela yang tak bersuara
Intelektual bukan hanya tentang analisis, tetapi juga keberpihakan.
Kesimpulan
Dalam pemikiran Edward Said, intelektual sejati bukanlah gelar, dan bukan pula posisi pamer di ruang publik. Intelektual adalah mereka yang:
• mempertahankan independensi moral,
• berani menyuarakan kebenaran,
• dan berdiri di sisi mereka yang tersingkir.
Sokrates dan Yesus, ketika dipahami sebagai figur universal, menjadi contoh paling lengkap tentang integritas intelektual. Keduanya menunjukkan bahwa kebenaran memiliki harga, dan intelektual sejati adalah mereka yang bersedia membayarnya.
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
12.28
Rating:

Tidak ada komentar: