Apah itu Kebahagiaan?
Saya mencoba untuk menghindar tentang gagasan kebahagiaan dari banyak tokoh, dan mencoba untuk melihat tentang realitas kebahagiaan yang saya perhatikan. Ketika melihat tukang becak, selama menunggu penumpang, dia enaknya tidur pulas, dengan posisi tubuh di atas bidang yang tidak rata, dan bisa tidur dengan nyaman. Bunyi klakson mobil, teriakan orang dan bahkan udara panas menyengat tidak mampu mengganggu kenyamanan tidur dan mimpi indahnya. Terkadang tidak sedikit orang tidur di kasur yang super empuk dengan konsep kasur kesehatan, terkadang sulit memejamkan mata. Walaupun tidak ada gangguan tidur sekalipun.
Ketika berkunjung ke rumah-rumah penduduk yang sempit dan pengap, tanpa sekat di mana tempat tidur dan di mana ruang makan, namun mereka bisa tertawa lepas seakan-akan mereka tidak perduli dengan keadaannya. Sementara yang lain, dengan tempat tinggal yang serba lengkap dan mewah malah datang keluhan yang tidak berujung.
Kalau saya pulang kampung yang masih sederhana, bau kotoran hewan terkadang muncul tak terduga, atau bila ingin ke kamar mandi atau BAB harus ke luar rumah dan masih harus mandi di tempat umum, mereka bisa menikmati bertahun-tahun.
Saya punya banyak teman dari pulau-pulau terpencil yang terkadang datang ke rumah dan saya sediakan kamar yang baik, dengan tempat tidur lengkap, namun mereka selalu ingat kampung halaman. Ingat dengan tempat tidurnya, suasana tempat tinggalnya.
Fakta di atas tentu bukanlah definisi kebahagiaan, tetapi merupakan pengamatan tentang kebahagiaan. Ternyata kebahagiaan tidak selalu lahir dari kenyamanan, tetapi dari kecocokan antara hidup dan batin.
Mengurai Berbagai Situasi yang Dialami oleh Manusia.
1. Tubuh Bisa Beradaptasi, Batin Belum Tentu Menerima
Tukang becak yang tidur pulas di atas permukaan tidak rata bukan karena tempat itu ideal, tetapi karena tubuhnya berdamai dengan ritme hidupnya. Ia lelah secara wajar, pikirannya tidak penuh tuntutan, dan tidak ada kecemasan yang menggantung.
Sebaliknya, orang yang tidur di kasur empuk seringkali membawa ke tempat tidur:
• pikiran yang belum selesai,
• tuntutan yang belum terpenuhi,
• kecemasan tentang esok hari,
• perbandingan dengan orang lain.
Kasur tidak pernah menjadi sumber kebahagiaan. Ia hanya alat. Yang menentukan adalah keheningan batin.
2. Ruang Sempit Bisa Luas, Rumah Besar Bisa Sesak
Kamu melihat rumah sempit tanpa sekat, pengap, bercampur antara ruang makan dan tempat tidur, tetapi penghuninya bisa tertawa lepas. Mengapa?
Karena:
• mereka tidak menuntut hidup lebih dari yang mereka jalani,
• relasi antarmanusia lebih hangat daripada relasi dengan benda,
• hidup mereka tidak terfragmentasi oleh standar-standar ideal.
Sebaliknya, rumah mewah sering dihuni oleh:
• ekspektasi tinggi,
• ketakutan kehilangan,
• tekanan untuk mempertahankan citra,
• kesepian yang tidak terlihat.
Maka rumah besar bisa terasa kosong, sementara rumah kecil bisa terasa hidup.
3. Ketahanan Makna Mengalahkan Kenyamanan Fisik
Kampung halaman yang sederhana, bau kotoran hewan, mandi di tempat umum, ke kamar mandi harus keluar rumah, itu semua secara objektif tidak nyaman.
Tetapi manusia tidak hidup dari kenyamanan semata. Manusia hidup dari makna yang berulang dan stabil:
• rasa memiliki,
• keterikatan sosial,
• ingatan,
• ritme hidup yang dikenali.
Itulah sebabnya teman-temanmu dari pulau terpencil, meskipun diberi kamar yang baik, tetap merindukan kampung halaman. Karena kenyamanan tidak bisa menggantikan rasa “diakui oleh hidup sendiri.”
4. Kebahagiaan Bukan “memiliki”, Tapi “selaras”
Dari semua pengamatanmu, kebahagiaan tampaknya bukan:
• kekayaan,
• fasilitas,
• kemewahan,
• standar hidup tinggi.
Melainkan:
• keselarasan antara apa yang dimiliki dan apa yang diharapkan,
• kesesuaian antara cara hidup dan nilai batin,
• ketiadaan konflik batin yang terus-menerus.
Orang yang sederhana sering bahagia bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena:
• ia tidak hidup melawan dirinya sendiri,
• ia menerima ritme hidupnya,
• ia tidak merasa tertinggal dari versi ideal yang diciptakan orang lain.
5. Maka, Apa itu Kebahagiaan Bagi Manusia?
Jika dirangkum dari pengamatanmu (bukan dari teori), kebahagiaan itu tampaknya adalah keadaan ketika manusia tidak merasa perlu melarikan diri dari hidup yang sedang ia jalani.
Ia bisa tidur di mana saja, tertawa di ruang sempit, bertahan dalam kesederhanaan, dan merindukan kampung halaman, karena batinnya tidak sedang memberontak terhadap hidupnya sendiri.
Penutup
Kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa diukur dari luar. Ia lebih dekat dengan pertanyaan ini, “Apakah hidup yang sedang saya jalani ini terasa ‘masuk akal’ bagi batin saya?”
Jika jawabannya ya, bahkan kekurangan pun bisa terasa ringan. Jika jawabannya tidak, bahkan kemewahan pun terasa melelahkan.
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
15.59
Rating:

Tidak ada komentar: