Banyak pemimpin mengeluhkan satu pola klasik yaitu, karyawan baru tampak sopan, patuh, dan berdedikasi, tetapi setelah beberapa tahun bekerja, sebagian mulai bersikap kritis, sinis, bahkan oposan. Di mana letak persoalannya? Apakah pada perusahaan, atau karyawan itu sendiri? Tapi ada baiknya kita memiliki pemahaman yang utuh mengenai pola ini.
Masalahnya, perubahan ini sering dibaca secara dangkal sebagai, penurunan loyalitas, pembangkangan, atau masalah sikap pribadi.
Padahal, jika ditelaah lebih jujur, perubahan sikap karyawan sering kali adalah respons rasional terhadap realitas organisasi yang mereka pahami seiring waktu.
Pemimpin yang Dewasa Tidak Bertanya “Kenapa Dia Berubah?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa yang ia lihat, yang ia dengar, dan ia alami sehingga si dia bisa berubah? Padahal pemimpin yang matang memahami bahwa:
• loyalitas bukan sifat tetap,
• kepatuhan bukan selalu tanda komitmen,
• dan perubahan sikap bukan selalu ancaman.
Justru, karyawan yang sudah lama bekerja biasanya lebih jujur terhadap realitas, meskipun caranya tidak selalu ideal.
Dari Sudut Pandang Kepemimpinan: Ini Proses, Bukan Pembangkangan
Menurut Edgar Schein, budaya organisasi tidak dibentuk oleh nilai yang ditulis, tetapi oleh:
• keputusan nyata,
• respons terhadap kritik,
• dan apa yang ditoleransi oleh pemimpin.
Artinya, ketika karyawan berubah sikap, sering kali yang sedang “berbicara” bukan individunya, melainkan budaya yang sedang diuji.
Kesalahan Umum Kepemimpinan dalam Menghadapi Karyawan Lama
Ada beberapa jebakan klasik yang sering dilakukan pemimpin:
1. Mengidealkan Kepatuhan Awal
Pemimpin keliru ketika menganggap sikap “manis” di awal sebagai standar ideal selamanya. Padahal, itu sering kali adalah fase adaptasi, bukan ekspresi kejujuran penuh.
2. Alergi terhadap Kritik
Ketika kritik selalu dianggap ancaman, organisasi secara tidak sadar:
• melatih karyawan untuk diam di depan,
• tetapi bersuara di belakang.
3. Menyamakan Oposisi dengan Ketidaksetiaan
Tidak semua sikap oposan bertujuan merusak. Banyak di antaranya lahir dari:
• kepedulian,
• frustrasi yang dipendam,
• atau keinginan memperbaiki yang tak tersalurkan.
Kepemimpinan yang Seharusnya Dilakukan
Jika perubahan sikap karyawan adalah keniscayaan, maka tugas pemimpin bukan menolaknya, melainkan mengelolanya dengan bijak.
1. Bangun Ruang Aman, Bukan Sekadar Struktur
SOP dan KPI penting, tetapi tanpa ruang psikologis:
• karyawan hanya akan patuh secara administratif,
• bukan terlibat secara emosional.
Ruang aman berarti:
• boleh berbeda pendapat,
• boleh kritis tanpa distigma,
• boleh jujur tanpa takut kariernya terancam.
2. Bedakan Kritik Sehat dan Perlawanan Destruktif
Pemimpin reflektif tidak menyamaratakan semua suara keras sebagai masalah.
Ia belajar menyaring:
• mana kritik berbasis pengalaman,
• mana resistensi berbasis ego.
3. Jadikan Dialog, Bukan Dominasi
Oposisi yang ditekan akan berubah bentuk, bukan menghilang. Sebaliknya, oposisi yang diajak berdialog sering kali justru menjadi sumber perbaikan sistem.
Keunggulan Pemimpin yang Pernah Menjadi Karyawan
Pemimpin yang pernah berada “di bawah” biasanya:
• peka terhadap perubahan sikap,
• sadar bahwa diam tidak selalu berarti setuju,
• dan tidak terkejut ketika karyawan mulai kritis.
Pengalaman ini membuat kepemimpinan lebih manusiawi, karena ia tahu, karyawan lama tidak ingin dimanja, mereka ingin dihargai dan didengar.
Penutup: Kepemimpinan Adalah Mengelola Ketegangan, Bukan Menghilangkannya
Organisasi yang sehat bukan organisasi tanpa konflik, melainkan organisasi yang:
• mampu menampung perbedaan,
• tidak panik terhadap kritik,
• dan tidak memaksa semua orang tetap “manis” demi kenyamanan semu.
Karyawan akan berubah. Itu alamiah. Pertanyaannya tinggal satu, apakah kepemimpinan cukup dewasa untuk berubah cara memimpin?
Pemimpin yang memahami ini tidak mencari karyawan yang selalu patuh, tetapi membangun sistem di mana kejujuran tidak harus berubah menjadi perlawanan.
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
10.56
Rating:

Tidak ada komentar: