<!-- SEO Blogger Start --> <meta content='text/html; charset=UTF-8' http-equiv='Content-Type'/> <meta content='blogger' name='generator'/> <link href='https://www.makkellar.com/favicon.ico' rel='icon' type='image/x-icon'/> <link href='https://www.makkellar.com/2026/01/dari-karyawan-manis-ke-karyawan-oposan.html' rel='canonical'/> <link rel="alternate" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.makkellar.com/feeds/posts/default" /> <link rel="alternate" type="application/rss+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - RSS" href="https://www.makkellar.com/feeds/posts/default?alt=rss" /> <link rel="service.post" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.blogger.com/feeds/2646944499045113697/posts/default" /> <link rel="alternate" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.makkellar.com/feeds/671406545876615943/comments/default" /> <!--Can't find substitution for tag [blog.ieCssRetrofitLinks]--> <link href='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyctQFrD3p3CJ3ZhUhfRAeNM-SmtRw7JEjz_l36OgCY2UswUuQLXnPuXkq32uo080PBp_A3_eZwvC0RvzW9GxS8lXf5wb0loBK6YexhPxf-8VP7TVTx3vribX1khBeN7UbDebJcGtmcPniN1CsfXz8LpL_LAl1L7TfkOpyx5TqFnL5WVY74f6NY1l1Lt0/w266-h200/Pola%20Karyawan%20Baru%20dan%20Karyawan%20Lawas.jpg' rel='image_src'/> <meta content='Mengapa karyawan baru terlihat sangat sopan dan patuh, namun berubah sikap setelah lama bekerja? Artikel ini membahas pola psikologis karyawan' name='description'/> <meta content='https://www.makkellar.com/2026/01/dari-karyawan-manis-ke-karyawan-oposan.html' property='og:url'/> <meta content='Dari Karyawan Manis ke Karyawan Oposan: Pola Psikologis yang Sering Terjadi di Dunia Kerja' property='og:title'/> <meta content='Mengapa karyawan baru terlihat sangat sopan dan patuh, namun berubah sikap setelah lama bekerja? Artikel ini membahas pola psikologis karyawan' property='og:description'/> <meta content='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyctQFrD3p3CJ3ZhUhfRAeNM-SmtRw7JEjz_l36OgCY2UswUuQLXnPuXkq32uo080PBp_A3_eZwvC0RvzW9GxS8lXf5wb0loBK6YexhPxf-8VP7TVTx3vribX1khBeN7UbDebJcGtmcPniN1CsfXz8LpL_LAl1L7TfkOpyx5TqFnL5WVY74f6NY1l1Lt0/w1200-h630-p-k-no-nu/Pola%20Karyawan%20Baru%20dan%20Karyawan%20Lawas.jpg' property='og:image'/> <!-- Title --> <title> Bukan makelar tapi Menjadi peranta untuk kebaikan bersama Dari Karyawan Manis ke Karyawan Oposan: Pola Psikologis yang Sering Terjadi di Dunia Kerja - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera Dari Karyawan Manis ke Karyawan Oposan: Pola Psikologis yang Sering Terjadi di Dunia Kerja - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera

Dari Karyawan Manis ke Karyawan Oposan: Pola Psikologis yang Sering Terjadi di Dunia Kerja

Fenomena yang Terlihat Sepele, Tapi Sangat Nyata

Hampir semua organisasi pernah mengalaminya, sebagai karyawan maupun kita sebagai pemimpin bisa menangkap pola ini. Karyawan baru datang dengan sikap yang nyaris sempurna, semangat, sopan, rajin, penurut, dan selalu ingin tampil maksimal. Mereka berusaha keras menyesuaikan diri, bekerja ekstra, dan menjaga tutur kata.

Namun, setelah beberapa waktu, ketika mereka mulai memahami “isi perut” perusahaan, bisa saja sebagian karyawan mulai berubah. Ada yang tetap profesional, tetapi tidak sedikit yang menunjukkan perubahan:

mulai kehilangan kesopanan,

         menjadi kritis,

menunjukkan sikap oposan,

bersikap sinis,

atau bergerak lewat kasak-kusuk informal.

Fenomena ini sering dianggap sebagai masalah sikap, padahal jika ditelaah lebih dalam, ia adalah proses psikologis yang sangat manusiawi. Dan sekarang cobalah kita menelaah diri kita dulu ketika masih menjadi karyawan, dan mungkin saat ini sudah menjadi pemimpin bisa menelaah hal ini.

Fase Awal: Saat Karyawan Masih “Manis”

Pada masa awal bekerja, karyawan berada dalam fase adaptasi dan observasi. Ada beberapa dorongan kuat yang membentuk perilaku mereka:

1. Dorongan untuk Bertahan

Lingkungan baru selalu dibaca otak sebagai wilayah yang belum aman. Maka, sikap hati-hati dan patuh menjadi strategi bertahan hidup yang wajar.

2. Kebutuhan untuk Diterima

Karyawan baru ingin dianggap layak, cocok, dan tidak bermasalah. Mereka cenderung menekan perbedaan pandangan demi diterima secara sosial.

3. Harapan Ideal terhadap Perusahaan

Di awal, banyak karyawan masih percaya bahwa:

kerja keras akan dihargai,

sistem berjalan adil,

budaya perusahaan sesuai dengan nilai yang dikampanyekan.

Inilah fase yang sering disebut sebagai honeymoon phase dalam dunia kerja.

Titik Balik: Saat Realitas Mulai Terbuka

Seiring waktu, informasi bertambah. Karyawan mulai memahami dinamika internal:

bagaimana keputusan benar-benar diambil,

siapa yang didengar dan siapa yang diabaikan,

bagaimana konflik diselesaikan (atau disembunyikan),

apakah nilai perusahaan benar-benar dijalankan.

Menurut Edgar Schein, budaya organisasi bukan ditentukan oleh slogan, tetapi oleh pola perilaku nyata yang terus diulang dan ditoleransi.

Di titik inilah karyawan mulai membandingkan:

“Apa yang dijanjikan”

dengan

“Apa yang benar-benar terjadi.”

Kenyamanan Menentukan Arah Sikap

Di sinilah poin penting yang Anda tangkap dengan sangat tajam:

✔ Jika Karyawan Merasa Nyaman

Nyaman bukan berarti tanpa masalah, tetapi:

didengar,

diperlakukan adil,

diberi ruang menyampaikan pendapat.

Dalam kondisi ini, karyawan cenderung:

tetap profesional,

bersikap dewasa,

mengelola kekecewaan secara sehat.

✖ Jika Karyawan Mulai Tidak Nyaman

Ketidaknyamanan yang terus dipendam akan mencari jalan keluar. Ketika:

kritik tidak punya ruang,

kejujuran berisiko,

ketimpangan dibiarkan,

maka sikap oposan sering kali muncul sebagai mekanisme perlindungan diri, bukan sekadar pembangkangan.

Sikap Oposan Bukan Selalu Tanda Ketidaksetiaan

Banyak organisasi keliru membaca sikap kritis sebagai ancaman. Padahal, dalam banyak kasus:

karyawan oposan adalah karyawan yang peduli,

mereka sudah cukup lama untuk memahami sistem,

tetapi tidak menemukan saluran komunikasi yang sehat.

Ketika suara tidak bisa naik ke atas, ia akan menyebar ke samping.

Pelajaran Penting bagi Karyawan

Bagi karyawan sendiri, refleksi ini penting:

Tidak semua sistem bisa diubah dari dalam.

Tidak semua ketidaknyamanan harus dilawan dengan perlawanan.

Profesionalisme bukan berarti membungkam nurani.

Kematangan kerja sering kali terlihat dari kemampuan memilih, kapan berbicara, kapan bertahan, dan kapan pergi dengan tenang.

Penutup: Ini Bukan Tentang Siapa yang Salah

Perubahan sikap karyawan bukan sekadar soal moral individu. Ia adalah hasil interaksi antara:

harapan,

realitas,

dan ruang psikologis yang disediakan organisasi.

Karyawan baru ingin diterima.

Karyawan lama ingin dihargai dan didengar.

Ketika salah satunya hilang, perubahan sikap bukanlah keanehan, melainkan konsekuensi.

Dari Karyawan Manis ke Karyawan Oposan: Pola Psikologis yang Sering Terjadi di Dunia Kerja Dari Karyawan Manis ke Karyawan Oposan: Pola Psikologis yang Sering Terjadi di Dunia Kerja Reviewed by Admin Brinovmarinav on 12.45 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.