Salah satu sumber ketidakbahagiaan manusia yang paling sering terjadi, namun jarang disadari, yaitu sikap takut pada pendapat orang banyak. Kita sering mengira kalau ketidakbahagiaan datang dari kegagalan ekonomi, masalah keluarga, atau tekanan hidup. Namun Bertrand Russell, dalam The Conquest of Happiness, justru menunjukkan sesuatu yang lebih halus tetapi menghancurkan: Hidup di bawah bayang-bayang omongan orang atau yang sering dikenal dengan jadi rerasan atau dighibahin.
Ketakutan Sosial yang Terlihat Normal
“Takut omongan orang” sering disamarkan sebagai:
• sopan santun,
• menjaga perasaan,
• atau demi keharmonisan.
Padahal, menurut Russell, ketika pendapat orang lain menjadi penentu utama keputusan hidup, di situlah kebahagiaan mulai terkikis.
Bisa jadi banyak orang:
• memilih pekerjaan bukan karena panggilan, tetapi karena “kata orang”, kalau jadi pegawai ini,, wah hebat ya.
• bertahan dalam relasi yang menyakitkan karena takut dinilai, "Jangan pilih dia, orang yang begini-begitu.
• atau menekan kejujuran diri demi diterima lingkungan.
Secara sosial terlihat baik-baik saja, tetapi secara batin terkuras pelan-pelan. Kalau begitu apakah pikiran Russell itu karena dia hidup di Barat?
Russell Tidak Anti-Kehidupan Sosial
Penting diluruskan, Russell bukan penganut individualisme dingin yang menolak komunitas. Justru sebaliknya, ia mengakui bahwa manusia membutuhkan relasi sosial untuk bertumbuh.
Namun ia membedakan dua hal penting:
1. Hidup Bersama Masyarakat
➡️ Menumbuhkan rasa aman, solidaritas, dan makna.
2. Hidup Di Bawah Kendali Opini Publik
➡️ Melahirkan kecemasan, kepura-puraan, dan kehilangan diri.
Yang dikritik Russell adalah yang kedua. Tapi kita coba telusuri lebih dalam tentang hal ini.
Mengapa Ketakutan Ini Begitu Kuat di Masyarakat Komunal?
Dalam masyarakat komunal, seperti banyak komunitas pedesaan di Indonesia, relasi sosial sangat dekat. Ini indah, tetapi juga rawan.
Ciri-cirinya:
• reputasi menyebar cepat,
• norma dijaga bersama,
• penyimpangan kecil mudah diperbesar.
Ungkapan seperti:
• “Nanti orang ngomong apa?”
• “Tidak enak sama tetangga”
• “Sudah kebiasaan dari dulu”
menjadi mekanisme kontrol sosial yang sering tidak disadari. Nah menurut Russell, masalah akan muncul ketika: suara kolektif menggantikan suara hati dan rasio pribadi.
Bentuk Ketidakbahagiaan yang Dihasilkan
Russell mengamati bahwa orang yang hidup dalam ketakutan sosial biasanya mengalami:
1. Kehilangan Keaslian Diri
Hidup dijalani untuk memenuhi ekspektasi, bukan kebenaran batin.
2. Kecemasan yang Tidak Pernah Usai
Bukan takut salah secara moral, tetapi takut tidak disukai.
3. Kebahagiaan Bersyarat
Bahagia hanya jika disetujui. Jika tidak, rasa bersalah muncul. Ini membuat kebahagiaan menjadi rapuh dan bergantung.
Kritik Halus Russell: Ini Bukan Soal Budaya Timur atau Barat
Menariknya, Russell justru banyak mengambil ilustrasi dari kehidupan desa di Barat, tempat norma sosial sangat kuat. Artinya, ia tidak sedang menyalahkan “budaya Timur”.
Yang ia kritik adalah kondisi psikologis manusia: ketika keberanian untuk berpikir dan hidup jujur dikalahkan oleh rasa takut dikucilkan. Dengan kata lain, ini adalah masalah manusia, bukan semata budaya.
Jalan Keluar Menurut Russell: Merdeka Secara Batin
Russell tidak menganjurkan pemberontakan sosial atau hidup semaunya. Ia mengusulkan sesuatu yang lebih dewasa:
• peduli tanpa tunduk,
• menghormati tanpa kehilangan diri,
• hadir di komunitas tanpa menyerahkan kemerdekaan batin.
Ia menulis bahwa kebahagiaan hanya mungkin jika seseorang: tidak terus-menerus hidup dalam bayangan penilaian orang lain.
Penutup: Hidup Bersama, Tapi Jangan Hilang Diri
Takut omongan orang adalah salah satu bentuk penjara psikologis paling umum—dan sering dianggap normal. Melalui kacamata Bertrand Russell, kita diajak untuk bertanya: Apakah hidup ini dijalani dengan kesadaran, atau hanya dengan kehati-hatian agar tidak dibicarakan?
Kehidupan sosial seharusnya menjadi ruang bertumbuh, bukan ruang menekan. Dan kebahagiaan sejati hanya mungkin ketika seseorang berani hidup jujur, meski tidak selalu disetujui.
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
15.53
Rating:

Tidak ada komentar: