PEMBOHONG ADALAH ORANG BODOH YANG MENGANGGGAP ORANG LAIN BODOH

Rabu, 27 April 2016

PEMBOHONG ADALAH ORANG BODOH YANG MENGANGGGAP ORANG LAIN BODOH


Artikel ini tentu saja bukan hanya ditujukan kepada siapapun, tapi penulis ingin mengkritik diri sendiri di mana terkadang kita menjadi orang yang yang menganggap orang lain bodoh tapi sebenarnya kitalah yang bodoh.

Mari kita coba jabarkan dengan pelan-pelan yang menunjukkan bahwa PEMBOHONG itu adalah orang yang menganggap orang lain bodoh, tapi sebenarnya pelaku kebohongan itulah yang bodoh. Kalau kita berbicara mengenai perilaku orang yang berbohong, pastilah ketika dia salah satu contohnya ketika membohongi orang lain pastilah dia berpikir bahwa orang yang sudah dibohongi itu tidak akan tahu apa-apa mengenai kebohongannya itu, atau setidak-tidaknya dia berpikir, orang ini pastilah tidak mengerti hal yang sedang dibohongi itu. Suatu ketika saya datang ke sebuah daerah dan membeli buah mangga.

Saya mencoba bertanya, mangga yang mana yang paling manis? Sang pedagang menunjuk ke tumpukan mangga di depan saya. Sebagai orang yang buta mengenai jenis mangga mana yang masam atau kecut, dan yang manis, maka saya pun mengambilnya tawaran mangga yang sudah dibelahnya dan memang ketika saya coba memakannya, mangga tersebut begitu manisnya. Hal itu langsung memberi keyakinan kepada saya untuk membeli tumpukan mangga tersebut. Setelah melalui tawar menawar maka saya putuskan membeli sekitar 10 kilo gram karena mangga tersebut rencananya memang untuk oleh-oleh orang di kantor.

Setelah kami di rumah, seorang teman yang mendapat oleh-oleh dari saya itu melaporkan, mangganya sangat masam dan tidak layak untuk dimakan. Betapa kagetnya saya karena saya sudah dibohonginya dan tidak tanggung-tanggung, 10 kg mangga itu menjadi alat kebohongan. Sakit hati, pasti, kecewa, apalagi. Namun apakah si penjual mangga itu telah pintar membohongi saya? Untuk sementara saya yang dibohongi boleh dibilang menjadi orang bodoh. 

Tapi tahukah Anda bahwa sejarah pembelian mangga itu telah menjadi menanda bahwa tempat di mana saya membeli itu menjadi tempat haram untuk saya akan kembali. Bukan hanya itu, driver saya yang biasa membawa orang ke berbagai tempat termasuk kota di mana saya telah membeli mangga tersebut memberi aba-aba bahwa jangan pernah ke tempat di mana saya pernah berbelanja mangga tersebut karena sudah berhasil membohongi pembeli.

Siapakah yang bodoh pada akhirnya? Pembohong itulah yang menganggap orang lain (dalam hal ini saya dan driver) bodoh, tapi waktu yang akan datang pembohong itu adalah orang yang bodoh sebab telah menutup pintu rezekinya sendiri di kemudian hari.
Jadi, jangan jadi pembohong.

0 komentar:

Posting Komentar