Walau Mengerikan Jangan Panik dengan Virus Corona

Selasa, 10 Maret 2020

Walau Mengerikan Jangan Panik dengan Virus Corona



Tidak dapat disangkal bahwa semenjak diumumkannya adanya warga Indonesia yang terinfeksi virus Corona atau yang sering disebut COVID-19 oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu sedikit banyak menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Kalau sebelumnya kita hanya mendengar kegelisahan banyak masyarakat dunia di berbagai negara lain yang bukan hanya warganya terinfeksi, tapi bahkan tidak sedikit mereka yang melaporkan kematian akibat virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China tersebut, kini kitapun merasakan kegelisahan tersebut. Bersyukur bahwa Media Center Virus Corona COVID-19 seperti menjadi ruang di mana pemerintah terbuka dengan informasi mengenai Corona Virus ini. Sehingga hal tersebut memberi ketenangan kepada masyarakat walaupun sampai tulisan ini dibuat secara resmi pemerintah mengumumkan 19 orang positif terinfeksi Corona.

Kegelisahan itu sendiri ditandai dengan berbagai tindakan panik yang ditunjukkan oleh sebagian warga kita. Maklum, kalau soal keselamatan nyawa menjadi taruhan, kita tidak bisa berteori apapun, bahwa semua kita pasti takut. Ketakutan itu sendiri ditunjukkan dengan diburunya masker di berbagai toko dan apotek, sehingga harganya melambung. 

Bahkan celakanya kepanikan masyarakat ini oleh sebagian orang malah mencari keuntungan dengan melakukan tindakan-tindakan di luar hukum, seperti penimbunan masker yang sudah beberapa oknum ditangkap oleh aparat, pembuatan masker tanpa ijin resmi, menjual masker ke luar negeri dll.

Tanda kepanikan masyarakat juga ditandai dengan melakukan tindakan belanja yang berlebihan atau panic buying karena takut akan adanya situasi yang nantinya sampai ketakutan untuk melakukan kegiatan di luar rumah.  Beruntung pemerintah berhasil meyakinkan dan bisa menenangkan warga serta masyarakat Indonesia sehingga tindakan panic buying itu tidak berlanjut. Pemerintah seperti ingin mengatakan, semuanya akan baik-baik saja.

Walaupun perkembangan terakhir mengenai virus Corona yang diumumkan oleh pemerintah terus mengalami penambahan jumlah orang yang terpapar virus ini, namun bersyukur bahwa semuanya masih bisa dikendalikan dalam pengertian semuanya masih bisa ditangani dengan baik oleh para pemangku kepentingan negeri ini. Pemetaan dan kesigapan dalam penanganan terhadap orang yang terpapar virus Corona oleh pemerintah sedikit banyak kita mengerti bagaimana virus yang menghebohkan ini masih ditangani dengan baik. Saya mengamati bahwa, ketika negara bisa memberikan ketenangan dengan sebuah keyakinan dan jaminan bahwa negara hadir di tengah-tengah masyarakat, maka tentu saja rakyat juga akan menanggapinya dengan rasa tenang.

Sebenarnya dari sisi kita sebagai masyarakat dan rakyat menyikapi adanya virus Corona tersebut? Beberapa hal sebenarnya bisa dilakukan supaya kita bisa terhindar dari paparan virus Corona ini. Untuk mencegah penularan virus COVID 19 ini disarankan kita selalu mencuci tangan dengan sabun,   kemudian menggunakan masker bagi yang sakit flu, pilek dan batuk, menjaga daya tahan tubuh dengan makanan bergizi, serta berolah raga yang cukup dan tidak melakukan bepergian ke lokasi terjangkit.

Tapi ada satu hal yang mungkin perlu menjadi perhatian adalah bagaimana kita menghindari kepanikan ketika mendengar mengenai virus Corona ini. Karena kepanikan itu sendiri seperti virus itu sendiri, yaitu menular. Kalau kalau kita menularkan kepanikan, maka sama saja kita menularkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Waspada harus, jaga-jaga perlu. Tapi kepanikan berlebihan akan membuat kita dihantui oleh rasa takut. Karena kepanikan itu sendiri akan menimbulkan kegelisahan, dan bila kegelisahan itu berlebih maka bisa-bisa kita menjadi orang yang selalu takut dengan situasi yang terjadi.


UPDATE MENGENAI VIRUS CORONA


Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif terinfeksi virus Corona COVID-19 seperti yang disampaikan oleh Mensesneg Pratikno hari ini 14 Maret 2020

BELAJAR MELALUI ONLINE

Di beberapa wilayah beberapa kepala pemerintahan daerah mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan sekolah-sekolah dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA dan bahkan perguruan tinggi untuk mencegah penularan Virus Corona (COVID-19). Walaupun tidak seragam di seluruh Indonesia namun tidak sedikit yang memberlakukan tutup sekolah tersebut untuk satu sampai dua minggu mendatang. Muncul istilah di mana sekolah memperlakukan belajar online di rumah. Sebuah istilah yang kedengarannya sangat keren tapi apakah hal tersebut hanya sebatas istilah keren atau memang dilaksanakan dengan benar Belajar Melalui Online tersebut.

Kalau memang hanya sebatas penyebutan bahwa belajar dilakukan secara online untuk mengatakan bahwa sekolah memang diliburkan, maka embel-embel belajar melalui online itu tidak perlu dimunculkan khususnya untuk tingkat SD-SMA. Kalau yang perguruan tinggi mungkin sudah bukan barang asing lagi belajar secara online. Bagaimana dengan yang masih duduk di bangku SD-SMA?


Tapi kalau hal tersebut memang ingin diberlakukan di mana belajar melalui jalur online akan diterapkan maka inipun bukan perkara gampang. Di samping ada sekolah-sekolah yang tidak biasa melakukan kegiatan secara onlie, tapi juga bila disamaratakan maka akan menambah pusing tujuh keliling para orang tua. Pasalnya, harus ada pengeluaran ekstra di mana mereka harus ada data internet. 

Saya baru mendengar ada seorang ibu yang pusing tujuh keliling karena anaknya bila ada kesempatan untuk libur selalu digunakan untuk bermain game online. Sama-sama online, belajar online, dan game online, bedanya sangat tipis dalam arti, sama-sama di depan meja tapi tidak semua anak yang bila ada di depan komputer langsung dia tertarik untuk belajar, tapi lebih banyak untuk bermain game. Dan itu merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.


0 komentar:

Posting Komentar