Saya Ingin, Pelapak itu Seperti Mesin Pencari

Senin, 09 Maret 2020

Saya Ingin, Pelapak itu Seperti Mesin Pencari


Ilustrasi Foto: Flickr

Menjadi bos itu sepertinya menjadi incaran banyak orang. Dengan menempati kedudukan yang tinggi dan penuh dengan fasilitas tapi juga bayangan saya berada di level top. Makanya banyak tukang parkir yang sebenarnya mengerti posisi bos itu di level tinggi, sehingga terkadang kita dipanggil dengan sebutan bos. Tapi tahukah kita bahwa menjadi bos itu bukan hanya mereka pemilik pabrik dan perusahaan besar, namun para pelapak di toko online itupun sebenarnya adalah bos. Hanya saja, kalau kita pemain tunggal, maka keberadaan lapak kita itu ada di tangan kita sendiri. Mati hidupnya lapak berada di kita, bukan di orang lain.

Kalau mati dan hidupnya lapak itu ditentukan oleh kita sendiri maka sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita mau memajukan atau membuat stagnan lapak yang sudah kita bangun itu. Untuk menjadi pelapak terbaik di toko online atau malah mau membangun sendiri toko kita, tentu harus dengan bekerja keras. Yang dihadapi itu bukan melulu barang-barang yang harus diatur, difoto dengan bagus, atau mengupload dengan cantik serta mengatur semua hal yang berhubungan dengan penjualan, tapi faktor penentu lainnya adalah bagaimana pelanggan yang harus dihadapi dan ditemui.

Baca Juga:

Produk Apple Watch Hanya Rp. 499999 Didiskon Lagi Hanya Rp. 177.000

Tidak Masuk Akal HP Spek Tinggi Dijual 500 Ribuan- 1 Jutaa

Sebagai pelanggan, banyak pengalaman berurusan dengan pelapak, baik itu menyenangkan, menjengkelkan, dan membuat frustasi. Jujur saja, saya yang menjadi pelanggan banyak lapak punya sifat yang kurang baik juga. Tidak baiknya, kalau barangnya lancar sampai ke tangan saya, dengan entengnya saya melupakan, sampai diingatkan, tolong dong kasih tanggapan positif. Tapi kalau ada masalah sedikit saja, saya akan terus-menerus menghubungi sang penjual sampai merasa puas.

Pengalaman dengan banyak pelapak, memang akhirnya menjadi tahu bahwa menjadi penjual yang baik itu rupanya membutuhkan kesabaran tinggi, kesabaran ekstra. Betapa tidak, ketika pelapak salah sedikit, entah itu lambat merespon transaksi pelanggan, ketika bungkusnya ada sedikit cacat dalam pembungkusan, atau dengan tidak sengaja, memilihkan warna sesuai dengan yang direquest oleh palanggan, maka pelapak akan menjadi sasaran demo berjilid-jilid.
                                                                Ilustrasi Foto: Flickr

Maka apa ini yang dimaksud dengan pembeli adalah raja. Bagaimana tidak, kalau bagus, adem ayem tanpa memberi respon, atau tanda ada pujian, tapi kalau ada masalah sedikit saja, mungkin langsung dijadikan pengumuman  ke seluruh dunia. Inilah yang harus dihadapi oleh bos dari pelapak yang dibangun.

Tapi juga saya menjadi ingat di mana saya sering merasa pelapak itu berada di tingkatan ke 7 yang sulit untuk didekati. Mengapa? Karena pelapak punya tensi tinggi. Ditanya baik-baik terkadang menjawabnya cekak dan bahkan cenderung ketus. Ada lagi pelapak yang tidak ramah ketika saya yang ingin tahu banyak hal dari barang yang dijual itu. Yang lebih saya hindari adalah pelapak yang tidak sabar ketika pelanggan banyak bertanya. Kalau seperti ini untuk apa kita sebagai pelanggan bertanya, kalau dihadapi dengan tidak sabar, ketus, dianggap bodoh dll. 

Kalau menurut saya, bisa gak pelapak itu seperti google yang bila ditanya mengenai barangnya, dia akan menjawab dengan detail dan lengkap. Kalau pelanggan belum juga mengerti, sabarnya juga sama dengan google, yang sabar menunjukkan data-data yang sedang ditanya. Jadi menurut saya pelapak itu kalau bisa seperti mesin pencari yang siap menunjukkan data sampai terkecilpun.

Baca Juga:



0 komentar:

Posting Komentar