Awas! Betapa Mahalnya Sebuah Reputasi

Minggu, 08 Maret 2020

Awas! Betapa Mahalnya Sebuah Reputasi

Ilustrasi Foto: Flickr.com

Ada orang mengatakan reputasi itu sama dengan citra atau yang dikenal dengan mind of picture. Kalau pengertian itu benar maka sekarang kita mencoba untuk menelisik seberapa mahalnya sebuah reputasi. Perusahaan atau sebuah produk yang baru dikeluarkan tidak mungkin akan menjadi langsung booming dengan bendera berkibar. Dia harus selangkah demi selangkah membangun citra di mana produk yang dikenalkan itu akan menempel di kepala kita. Jadi kalau disebut produk Iphone, maka pastilah citranya bla, bla, bla.

Tapi sebenarnya bukan hanya produk-produk unggulan yang berhak mendapat citra atau reputasi yang baik, sebuah toko, baik itu toko fisik mauppun toko online akan terus membangun citra positif dengan berbagai cara. Makanya untuk membangun citra perusahaan berani menggelontorkan dana tak terhingga supaya citra itu akhirnya terbentuk. Sekarang kalau saya ingin membeli sebuah produk dan menentukan untuk membeli di sebuah toko online, dan lebih sempit lagi saya ingin belanja di sebuah lapak penjual, tentu saya akan memiliki pengalaman dengan toko tersebut. Positif atau negatif.

Baca Juga:

Produk Apple Watch Hanya Rp. 499999 Didiskon Lagi Hanya Rp. 177.000


Tidak Masuk Akal HP Spek Tinggi Dijual 500 Ribuan- 1 Jutaa

Makanya kalau kita membaca berbagai komentar di pengalaman yang ditulis oleh pembeli macam-macam ragamnya. Silahkan simak pengalaman ini:

"Wah, bisa jadi langganan ini."

"Terima kasih, penjualnya ramah sekali."

"Ini pembelian yang kedua," barangnya tetap kualitasnya, ok"

"Senang sekali berbelanja dengan agan satu ini."

"Gan, saya kasih bintang lima, karena saya puas sekali." 

Sebaliknya, bisa saja kita menjumpai komentar-komentar miring mengenai sebuah penjual di toko online yang pastilah akan dilihat oleh pelanggan-pelanggan lainnya.

"Ini penipuan, barangnya tidak sesuai dengan deskripsi"

"Jangan beli lagi dengan toko ini, saya kecewa."

"Penjualnya tidak bersahabat, malas mau balik lagi."

"Bungkusnya ala kadarnya. Untung tidak pecah."

"Seller care nya payah, tidak mau membantu, kapok"

"Barangnya ancur, lebih baik nambah sedikit sudah dapat yang ori."

Bayangkan bahwa ketika pembeli merasa kecewa, maka citra yang dibangun bertahun-tahun mungkin runtuh seketika. Makanya, ternyata membangun sebuah reputasi benar-benar sulit dan bahkan membutuhkan banyak pikiran, waktu dan tenaga serta bahkan dana. Tapi lebih sulit lagi ketika kita mempertahankan reputasi itu sendiri juga justru lebih sulit.

Sekarang saya ingin bercerita bagaimana citra seorang pedagang buah yang masih tersimpan dalam pikiran saya. Saat itu saya dalam perjalanan yang sering juga saya melewatinya. Suatu saat saya membeli 5 kg mangga. Sebenarnya mangga di kota itu terkenal manis dan bagus. Tapi saat itu si penjual dengan meyakinkan bahwa mangganya manis-manis. Untuk meyakinkan saya dan beberapa teman saya dia ambilkan acak dan memotongnya untuk kami makan. Hasilnya, mangga yang kami makan begitu manisnya. Teman-teman saya sekitar 5 orang masing-masing membeli 5 kg. Transaksi selesai, kami pulang.

Sampai di rumah kami berlima saling menelpon untuk menanyakan bagaimana mangga yang dibawa pulang ke rumah? Dengan geramnya seorang teman sambil mengumpat, kalau mangganya itu kecut atau masam dan tidak mungkin dimakan. Pengalaman itu sangat membekas dalam pikiran saya di mana setiap lewat di jalan di mana penjual mangga itu berada, selalu muncul bahwa penjual itu telah melakukan penipuan. Betapa kuatnya sebuah citra. 

Jadi, kalau kita sudah dianggap baik, reputasi itu sebaiknya dijaga, sekecil apapun kesalahan, kalau bisa dihindari. Ada kata-kata mutiara, NAMA BAIK LEBIH BERHARGA DARI PADA PERMATA. Karena harga sebuah citra dan reputasi itu mahal Bro!

Baca Juga:


     Seberapa CARE Pembeli kepada Penjual

0 komentar:

Posting Komentar