Gonta-ganti Pasangan Distro Linux Memang Mengasyikkan

Selasa, 19 Januari 2021

Gonta-ganti Pasangan Distro Linux Memang Mengasyikkan

Sebagai orang awam dan tidak mengerti banyak mengenai software dan ilmu IT serta komputer dengan segala kerumitannya tentu mempunya gaya tersendiri ketika berani menggunakan Operation System OS LINUX. Pengalamannya tentu berbeda satu dengan yang lain. Latar belakang saya ingin menggunakan Linux adalah:

  1. karena didorong oleh keengganan membayar besar lisensi OS Windows. 
  2. Ingin mengurangi pengeluaran setiap kerusakan softwere selalu memanggil tekhnisi
  3. ingin menangani hal-hal yang bersifat sederhana dengan tool atau alat yang saya gunakan, dengan cara mempelajarinya.
  4. mengurangi pengeluaran saya membeli komputer baru karena tuntutan OS. Contohnya sekarang kita 'dipaksa' untuk menggunakan Windows 10. Windows 7 memang bisa dipakai tapi tentu kata orang pintar ada resiko virus
  5. ingin mencicipi OS lain selain Windows yang selama ini dipakai. Tentu hal ini dikarenakan budget saya yang pas-pasan untuk mencoba yang lainnya yang lebih bagus. Apalagi dengan IOS. Jalan keluarnya adalah LINUX.
Tapi menggunakan LINUX bukan berarti semua faktor di atas mudah untuk dijalani. Ibaratnya seperti berkendara di jalan tol tanpa hambatan. Bahkan sebuah laptop lama merk Dell masih Core 2 Duo sudah menjadi korban dan kini sudah tidak bisa digunakan sama sekali. Pasalnya, laptop kuno yang saya beli second itu terus dipaksa untuk melakukan install ulang berbagai jenis distro Linux. Kata orang, untuk tahu dengan sesuatu itu terkadang harus berkorban.

Kecenderungan saya dengan mencoba OS Linux adalah ingin mencoba dan mencoba kenikmatan berselancar dengan menginstall distro-distro LINUX yang sangat bervariasi tersebut. Karena ilmu saya hanya berdasarkan para ahli IT yang menggelontorkan ilmunya di banyak artikel di google, maka seringkali saya terpancing untuk mencicipi ranumnya distro-distro Linux yang satu dengan lainnya yang sering berbeda kelebihan Linux satu dengan lainnya.

Tapi alasan yang paling jujur dengan bergonta-ganti pasangan dengan berbagai distro Linux tersebut selain karena memang ingin mencicipi, tapi juga ketika saya menghadapi kendala-kendala di sebuah distro. Maklum, selain saya tidak punya asisten yang bisa membantu mengarahkan, tapi juga mungkin faktor daya juang yang kurang. Walaupun sekarang ini saya kepincut dengan sebuah distro yang tentu tidak perlu saya sampaikan di sini. Takut banyak yang kesengsem.

Nah, biasanya ketika selesai menginstall sebuah distro Linux dan beberapa hari sudah menggunakan. Kita mulai memoles-moles supaya lebih cantik dalam tampilan. Entah itu soal dekstop atau ingin memasang beberapa aplikasi melalui install, terkadang juga mencoba-coba hal yang baru dengan Linux tersebut. Tapi ketika mengalami kendala dan ternyata sulit mencari solusinya, mulailah gelisah datang dan bila tidak ada jalan keluar, lalu datanglah pikiran pikiran selingkuh untuk pindah ke distro lainnya. Demikianlah pengalaman perpindahan dari distro ke distro sampai akhirnya saya tidak mau ke lain hati karena bila ada masalah selalu ada jalan keluarnya.

0 komentar:

Posting Komentar