Rumitnya Parkir Mobil di RS. Dr. Saiful Anwar

Rabu, 03 Maret 2021

Rumitnya Parkir Mobil di RS. Dr. Saiful Anwar

Gambar Sebagai Pemanis (flickr.com)

Bagi warga Arema, siapa yang tidak kenal dengan Rumah Sakit RSUD Dr. Saiful Anwar? Rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini menjadi rujukan banyak pasien yang ingin berobat maupun dirawat inap di rumah sakit ini. Penulis beberapa kali datang mengantar pasien berobat maupun memeriksakan pasien ke rumah sakit yang berada di Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 2 Malang ini. Pertama tahun 2014 dan yang kedua tahun akhir Februari 2021. Jarak kunjungan pertama dan beberapa tahun kemudian tersebut persoalan yang saya hadapi adalah soal parkir mobil yang begitu rumit. Terakhir ketika mengantar seorang pasien untuk melakukan tes EEG. Lokasi pemeriksaan berada di Paviliun yang posisi ruangannya berada di bagian belakang dari rumah sakit. 

Karena posisi ruangan ada di bagian belakang rumah sakit tersebut maka saya ingin masuk melalui pintu belakang. Namun, begitu sampai ke pintu belakang, dan menyampaikan tujuan untuk mendaftar EEG di ruangan yang akan dituju, penjaga keamanan pintu menyarankan saya melalui pintu utama depan. Setelah mengambil ticket masuk saya begitu kesulitan memarkir mobil sama seperti waktu tahun 2014 lalu. Kemajuannya sekarang adalah sudah ada alat mesin ticket otomatis. Namun begitu masuk saya harus mengantri dulu sampai ada tempat untuk parkir kendaraan mobil saya. Nyatanya tidak ada tempat dan saya diminta untuk diparkir di jalan saja dan menyerahkan kunci mobil supaya nanti bila sudah ada yang lowong akan dibantu diparkirkan.

Hari berikutnya saya mengantar pasien yang akan periksa EEG tersebut dan supaya tidak perlu jalan jauh dari pintu utama bagian depan ke ruangan paviliun, maka saya lewat pintu belakang tapi hanya mengantar di pintu pagar saja. Setelah itu saya akan parkir dari pintu depan. Dan seperti biasa saya diminta untuk menitipkan kunci mobil dan tukang parkir akan membantu memarkirkan mobil saya. Tidak lama berselang saya ditelpon oleh teman pasien EEG itu supaya melalui pintu belakang saja. Tidak ada larangan untuk parkir di belakang. Tentu ini berbeda dengan penjaga pintu sebelumnya. Tapi karena saya sudah parkir saya putuskan besok hari saja setelah pengambilan hasilnya.

Hari ketiga saya kembali mengantar pasien untuk pelaksanaan EEG dan langsung masuk melalui pintu belakang dengan lancar. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan ruangan, saya parkir di tempar parkir belakang, tidak jauh dari pintu masuk. Aman pikir saya.

Kunjungan keempat adalah ketika ingin mengambil hasil tes EEG. Seperti biasa saya melalui pintu belakang rumah sakit dan menyampaikan maksud serta tujuan masuk area rumah sakit lewat pintu belakang. Penjaga pintu mempersilahkan dan langsung saya menuju ke tempat parkir kunjungan terakhir saya. Namun, baru saja saya memarkir kendaraan saya, seorang penjaga parkir memberitahu saya bahwa tempat tersebut adalah khusus untuk kendaraan bagi yang rawat inap. Dan saya diminta untuk memarkir mobil ke tempat parkir bagian tengah rumah sakit dengan memberikan arah dan petunjuk lokasi. 

Setelah sampai ke lokasi parkir bagian tengah. Parkiran tersebut memang sudah penuh dengan berbagai kendaraan. Tiba-tiba seorang penjaga parkir mendekati saya dan menanyakan tujuan saya. Setelah disampaikan bahwa akan mengambil berkas hasil tes EEG, kemudian saya ditanya lagi berapa lama? Saya bilang, hanya sebentar dan hanya mau mengambil berkas. 

Kemudian penjaga parkir memberitahukan bahwa tempat parkir tersebut adalah dikhususkan hanya untuk dokter bukan untuk keluarga pasien. Positive thinking saya adalah, semua ini mungkin karena adanya COVID-19, jadi ikuti saja.

Setelah selesai mengambil berkas hasil tes EEG saya meninggalkan rumah sakit dan karena keperluan tertentu saya mampir ke tempat perbelanjaan Mall Alympic Garden atau MOG. Saya melewati satpam penjaga depan sambil memeriksa dengan alat deteksi. Sementara saya mengambil ticket masuk kendaraan, dan parkir di mall tersebut tanpa bersusah payah.

0 komentar:

Posting Komentar