Tanggal 10 Januari diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Indonesia, dan Penanaman Sejuta Pohon dan tanggal ini punya latar sejarah yang cukup penting dalam perjalanan kebijakan lingkungan di Indonesia. Dua peringatan penting yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah di balik banyaknya hutan yang gundul di berbagai tempat.
Mari kita melihat latar belakang dua peringatan penting tersebut bukan hanya untuk kepentingan hari ini, tapi bagaimana masa depan negeri ini di masa mendatang.
Sejarah Hari Lingkungan Hidup Indonesia (10 Januari)
Penetapan 10 Januari sebagai Hari Lingkungan Hidup Indonesia berkaitan erat dengan lahirnya komitmen nasional Indonesia terhadap pengelolaan lingkungan hidup.
1. Tonggak Awal Kebijakan Lingkungan
Tanggal ini merujuk pada 10 Januari 1978, saat pemerintah Indonesia membentuk Kementerian Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH).
Inilah lembaga resmi pertama yang secara khusus diberi mandat mengurusi persoalan lingkungan hidup di tingkat nasional. Sebelum itu, isu lingkungan masih tersebar di berbagai sektor dan belum menjadi perhatian utama dalam pembangunan.
2. Kesadaran Bahwa Pembangunan Punya Dampak Ekologis
Pada era 1970-an, Indonesia sedang gencar melakukan pembangunan. Namun mulai disadari bahwa:
• eksploitasi sumber daya alam,
• industrialisasi,
• dan pertumbuhan kota
memiliki dampak serius terhadap lingkungan jika tidak dikendalikan. Pembentukan kementerian tersebut menandai perubahan paradigma yaitu pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan hidup.
3. Berbeda dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Penting dicatat:
• Hari Lingkungan Hidup Indonesia → 10 Januari
• Hari Lingkungan Hidup Sedunia → 5 Juni (ditetapkan oleh PBB)
Keduanya punya makna berbeda:
• 5 Juni bersifat global
• 10 Januari bersifat refleksi nasional, terkait sejarah kebijakan lingkungan Indonesia sendiri
Makna peringatan 10 Januari
Hari Lingkungan Hidup Indonesia bukan sekadar seremoni, tetapi momen untuk:
• mengevaluasi kebijakan lingkungan,
• menumbuhkan kesadaran ekologis,
• mengingatkan bahwa kekayaan alam Indonesia bukan warisan leluhur semata, tetapi titipan untuk generasi mendatang.
Dalam konteks sekarang, krisis iklim, deforestasi, pencemaran laut, dan konflik sumber daya, tanggal 10 Januari menjadi pengingat bahwa, menjaga lingkungan bukan pilihan moral tambahan, melainkan syarat keberlanjutan bangsa.
Sejarah Hari Gerakan Satu Juta Pohon
Hari Gerakan Satu Juta Pohon diperingati setiap tanggal 10 Januari, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Indonesia. Kesengajaan penyamaan tanggal ini bukan kebetulan, melainkan memiliki makna filosofis dan strategis.
Lahir dari keprihatinan atas kerusakan lingkungan. Gerakan ini muncul sebagai respons atas:
• deforestasi yang masif,
• degradasi lahan,
• banjir dan longsor yang berulang,
• serta menurunnya kualitas lingkungan hidup.
Pemerintah menyadari bahwa peringatan lingkungan hidup tidak cukup berhenti pada pidato dan seremonial, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam aksi konkret yang bisa diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menanam pohon dipilih karena:
• sederhana,
• simbolis,
• dan berdampak jangka panjang.
Dari simbol satu juta ke kesadaran berjuta-juta. Angka “satu juta” tidak dimaksudkan sebagai hitungan matematis semata, melainkan sebagai simbol gerakan masif dan kolektif. Pesannya jelas, menjaga lingkungan bukan tugas negara saja, tetapi tanggung jawab bersama.
Setiap pohon yang ditanam merepresentasikan:
• harapan,
• komitmen jangka panjang,
• dan kesadaran bahwa alam perlu dipulihkan, bukan hanya dieksploitasi.
Pohon sebagai metafora masa depan
Pohon tidak memberi hasil instan. Ia tumbuh perlahan, membutuhkan waktu, dan baru memberi manfaat bertahun-tahun kemudian. Karena itu, gerakan ini sesungguhnya adalah kritik halus terhadap pola pikir jangka pendek.
Menanam pohon berarti:
• percaya pada masa depan,
• peduli pada generasi yang belum lahir,
• dan berani menunda kepentingan hari ini demi kehidupan esok hari.
Makna strategis Hari Gerakan Satu Juta Pohon
Hari ini seharusnya dimaknai sebagai:
• pengingat bahwa kerusakan lingkungan harus dipulihkan,
• koreksi atas pembangunan yang mengabaikan keseimbangan,
• dan ajakan moral untuk merawat alam secara berkelanjutan.
Tanpa keberlanjutan, pembangunan hanyalah perpindahan masalah dari generasi ke generasi. Relevansi hari ini, dalam konteks krisis iklim dan kerusakan ekologis saat ini, Hari Gerakan Satu Juta Pohon seharusnya tidak berhenti pada kegiatan tahunan yang difoto lalu dilupakan.
Pertanyaan pentingnya, apakah pohon yang kita tanam hari ini benar-benar dirawat, atau hanya menjadi simbol yang gugur bersama seremonialnya?
Penutup
Dua peringatan penting yang jatuh pada 10 Januari ini seharusnya menjadi peringatan yang bukan sekedar kita ingat, apalagi momentumnya sangat tepat dan jika dihubungkan kembali dengan berbagai peristiwa bencana karena lingkungan yang mulai tidak bersahabat dengan kita.
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
10.50
Rating:

Tidak ada komentar: