Setiap Hari Gerakan Satu Juta Pohon 10 Januari, kita sering menyaksikan pemandangan yang hampir seragam, bibit ditanam, foto diambil, spanduk dibentangkan, lalu kegiatan selesai. Pohon ditinggal, alam dibiarkan, dan komitmen sering kali berhenti di seremoni. Mau hidup atau tidak itu urusan belakangan.
Inilah ironi dalam gerakan lingkungan hidup kita, semangat menanam tinggi, tetapi tanggung jawab merawat rendah. Yang penting ada kegiatan, orang melihat tindakan awal, perkara hasil itu dipikirkan kemudian. Pola-pola seremonial seperti ini menjadi pemandangan yang biasa. Padahal gerakan satu juta pohon memiliki nilai penting, dan ketika nilai itu kurang mendapat perhatian, yang terjadi adalah pemandangan yang menggelikan.
Ketika Menanam Pohon Menjadi Sekadar Simbol
Menanam pohon sering diperlakukan sebagai:
• agenda tahunan,
• kewajiban institusional,
• atau aktivitas pencitraan.
Padahal, pohon bukan simbol mati. Ia adalah makhluk hidup yang membutuhkan:
• air,
• perawatan,
• perlindungan,
• dan keberlanjutan perhatian.
Tanpa itu semua, penanaman pohon hanya menjadi ritual kosong yang tidak berdampak ekologis.
Pohon Mati, Nurani Ikut Gugur
Banyak bibit yang ditanam mati dalam hitungan minggu atau bulan. Penyebabnya berulang:
• lokasi tidak sesuai,
• jenis pohon salah,
• tidak ada penyiraman lanjutan,
• tidak ada penanggung jawab.
Ketika pohon mati dan tidak ada yang merasa bertanggung jawab, di situlah persoalan sesungguhnya muncul. Yang mati bukan hanya pohon, tetapi kesadaran ekologis.
Budaya Seremonial vs Tanggung Jawab Jangka Panjang
Budaya tanam pohon tanpa perawatan mencerminkan pola pikir yang sama dengan eksploitasi lingkungan:
• ingin hasil instan,
• ingin terlihat peduli,
• tetapi enggan menanggung konsekuensi jangka panjang.
Menanam pohon sejatinya adalah komitmen lintas waktu. Ia menuntut kesabaran dan konsistensi—dua hal yang sering kalah oleh kebutuhan citra dan laporan kegiatan.
Merawat Pohon Adalah Merawat Masa Depan
Pohon yang tumbuh akan:
• menahan air dan mencegah banjir,
• menyerap karbon,
• menjaga kesuburan tanah,
• menjadi warisan ekologis bagi generasi berikutnya.
Namun manfaat itu hanya hadir jika ada perawatan berkelanjutan. Tanpa itu, gerakan satu juta pohon hanya akan menghasilkan satu juta kegagalan kecil yang terakumulasi.
Dari Tanam Pohon ke Tanggung Jawab Ekologis
Sudah saatnya kita menggeser fokus:
• dari jumlah ke kualitas,
• dari seremoni ke keberlanjutan,
• dari simbol ke tanggung jawab.
Lebih baik menanam sedikit pohon dan merawatnya dengan serius, daripada menanam banyak lalu melupakannya.
Hari Gerakan Satu Juta Pohon sebagai Koreksi Budaya
Hari Gerakan Satu Juta Pohon seharusnya menjadi:
• cermin kejujuran ekologis,
• koreksi atas budaya formalitas,
• dan ajakan untuk membangun etika merawat alam.
Pertanyaan terpenting bukan lagi berapa pohon yang kita tanam, tetapi, siapa yang memastikan pohon itu hidup lima, sepuluh, dan dua puluh tahun ke depan? Jika tidak ada jawabannya, maka kita sedang merayakan kepedulian semu.
Baca Juga:
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
08.38
Rating:

Tidak ada komentar: