Orang Jawa mempunyai ungkapan yang sederhana tetapi sarat makna: “Tonggo, digotong lan disonggo.” Tetangga adalah orang yang saling menggotong dan saling menopang kehidupan. Ungkapan ini mengingatkan bahwa ketika memilih sebuah rumah, kita sebenarnya tidak hanya memilih bangunan, tetapi juga memilih lingkungan tempat kita akan menjalani kehidupan selama bertahun-tahun.
Ketika berbicara tentang rumah yang ideal, kebanyakan orang langsung memikirkan lokasi yang strategis, desain bangunan yang indah, akses menuju tempat kerja, kedekatan dengan sekolah, rumah sakit, pusat perbelanjaan, atau transportasi umum. Semua itu memang penting. Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian, padahal justru sangat menentukan kualitas hidup sehari-hari, yaitu tetangga.
Tetangga Baru yang Sulit Diprediksi
Saat membeli rumah baru, kita mungkin dapat meneliti kualitas bangunan, mengecek legalitas, atau menghitung jarak menuju kantor. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang akan tinggal di sebelah kanan, kiri, depan, maupun belakang rumah kita. Kita belum mengenal sifat mereka, kebiasaan mereka, atau bagaimana mereka menghadapi perbedaan.
Bahkan sekalipun lingkungan tersebut tampak homogen, berasal dari suku yang sama, memeluk agama yang sama, atau memiliki latar belakang sosial yang serupa, itu tetap bukan jaminan bahwa kehidupan bertetangga akan selalu harmonis. Sebaliknya, lingkungan yang penuh perbedaan pun belum tentu menjadi sumber konflik.
Karena sesungguhnya persoalannya bukan hanya tentang “mereka”, tetapi juga tentang “kita”. Bisa saja justru kebiasaan yang kita bawa dari lingkungan lama menjadi pemicu kesalahpahaman dengan lingkungan baru.
Saya memahami hal itu dari pengalaman pribadi.
Selama hidup, saya sudah empat kali berpindah tempat tinggal sebelum akhirnya menetap hingga sekarang. Tidak semua pengalaman menyenangkan. Pernah saya tinggal di lingkungan yang membuat saya kurang nyaman karena sebuah konflik kecil yang terus membekas dalam hubungan bertetangga.
Faktor Penting Mahalnya Sebuah Rumah
Namun seiring waktu, keadaan perlahan berubah. Pertemuan warga yang rutin diadakan setiap bulan menjadi ruang untuk saling menyapa, berbincang lima hingga sepuluh menit, dan mengenal satu sama lain. Percakapan-percakapan sederhana itu ternyata mampu mengikis prasangka yang selama ini terbentuk.
Hari ini saya tinggal di sebuah perumahan kecil yang mungkin tidak terlihat istimewa jika dilihat dari luar. Namun bagi saya, rumah ini memiliki nilai yang sangat mahal.
Bukan karena harga bangunannya.
Bukan pula karena luas tanahnya.
Melainkan karena saya dikelilingi tetangga yang saling memahami, saling menolong, dan saling menjaga. Kami bisa meminta bantuan ketika membutuhkan, saling memperhatikan ketika ada yang sakit, dan tetap menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah kami tidak pernah mengalami konflik?
Tentu pernah.
Saya justru percaya bahwa konflik adalah bagian yang tidak mungkin dihindari dalam kehidupan bersama. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau gesekan kecil pasti akan muncul. Yang membedakan sebuah lingkungan yang sehat dengan yang tidak sehat bukanlah ada atau tidak adanya konflik, melainkan kemampuan menyelesaikan konflik tersebut.
Saya bersyukur karena sebagian besar persoalan yang pernah terjadi akhirnya dapat diselesaikan. Kami belajar saling memahami, saling memaafkan, dan melanjutkan hidup bersama.
Perbedaan agama ada.
Perbedaan suku juga ada.
Perbedaan karakter tentu lebih banyak lagi.
Namun semua itu tidak menjadi penghalang untuk membangun kehidupan bertetangga yang nyaman.
Di situlah letak mahalnya sebuah rumah.
Mengapa Faktor Tetangga Sebuah Rumah Menjadi Mahal?
Rumah yang nyaman bukan hanya berdiri di lokasi strategis atau memiliki bangunan yang megah, tetapi berada di tengah masyarakat yang mampu hidup berdampingan, menyelesaikan konflik dengan dewasa, dan terus memelihara hubungan baik.
Sayangnya, nilai seperti ini tidak bisa dibeli.
Ia tidak ikut tercantum dalam brosur pemasaran perumahan.
Ia tidak terlihat ketika survei lokasi.
Ia juga tidak bisa dibangun hanya dalam satu atau dua tahun.
Kepercayaan, rasa saling menghormati, dan kepedulian antartetangga membutuhkan waktu yang panjang, bahkan bisa puluhan tahun.
Beberapa waktu terakhir saya mendengar banyak kisah tentang keluarga yang merasa tidak betah tinggal di rumahnya sendiri karena persoalan dengan tetangga. Bahkan berbagai film dan serial di Netflix pun sering mengangkat cerita tentang konflik antar tetangga yang mengganggu ketenangan hidup.
Semua itu membuat saya semakin bersyukur.
Saya semakin menyadari bahwa salah satu rezeki terbesar dalam hidup bukan hanya memiliki rumah, melainkan memiliki tetangga yang membuat rumah itu benar-benar menjadi tempat pulang.
ungkin inilah makna terdalam dari pepatah Jawa tadi: tonggo, digotong lan disonggo. Kehidupan bertetangga bukan sekadar tinggal berdampingan, tetapi saling menopang ketika kehidupan sedang berat dan saling menguatkan agar setiap rumah menjadi tempat yang menghadirkan damai bagi penghuninya.
Bagaimana dengan rumah Anda sekarang ini?
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
19.11
Rating:

Tidak ada komentar: