<!-- SEO Blogger Start --> <meta content='text/html; charset=UTF-8' http-equiv='Content-Type'/> <meta content='blogger' name='generator'/> <link href='https://www.makkellar.com/favicon.ico' rel='icon' type='image/x-icon'/> <link href='https://www.makkellar.com/2026/09/ketika-gangguan-kesehatan-mental.html' rel='canonical'/> <link rel="alternate" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.makkellar.com/feeds/posts/default" /> <link rel="alternate" type="application/rss+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - RSS" href="https://www.makkellar.com/feeds/posts/default?alt=rss" /> <link rel="service.post" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.blogger.com/feeds/2646944499045113697/posts/default" /> <link rel="alternate" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.makkellar.com/feeds/3766442974394235421/comments/default" /> <!--Can't find substitution for tag [blog.ieCssRetrofitLinks]--> <link href='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimjrw48XO1lnUNnjbMAIXA_UFZkO745LORqNCIQzz5aOoda5z5ApjBGWtG113VQMTeCrfHMBl8iR-ogM8P48yt1Rin1qRzYnkzzDSrnxtNlnJXY7iIrGNnIwXynR6jZPoLj7BVQSKRuKAKXM19u1FCjNY4Vg72RZca7vJNfO-pKq0kNPc2PCX5cZyyUIs/w167-h252/Peduli%20dengan%20penyakit%20jiwa.jpg' rel='image_src'/> <meta content='Ketika gangguan kesehatan mental menjadi konten media sosial, empati sering hilang. Mengapa kita perlu menjaga martabat manusia di dunia digital?' name='description'/> <meta content='https://www.makkellar.com/2026/09/ketika-gangguan-kesehatan-mental.html' property='og:url'/> <meta content='Ketika Gangguan Kesehatan Mental Menjadi Konten: Hilangnya Empati di Era Media Sosial' property='og:title'/> <meta content='Ketika gangguan kesehatan mental menjadi konten media sosial, empati sering hilang. Mengapa kita perlu menjaga martabat manusia di dunia digital?' property='og:description'/> <meta content='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimjrw48XO1lnUNnjbMAIXA_UFZkO745LORqNCIQzz5aOoda5z5ApjBGWtG113VQMTeCrfHMBl8iR-ogM8P48yt1Rin1qRzYnkzzDSrnxtNlnJXY7iIrGNnIwXynR6jZPoLj7BVQSKRuKAKXM19u1FCjNY4Vg72RZca7vJNfO-pKq0kNPc2PCX5cZyyUIs/w1200-h630-p-k-no-nu/Peduli%20dengan%20penyakit%20jiwa.jpg' property='og:image'/> <!-- Title --> <title> Bukan makelar tapi Menjadi peranta untuk kebaikan bersama Ketika Gangguan Kesehatan Mental Menjadi Konten: Hilangnya Empati di Era Media Sosial - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera Ketika Gangguan Kesehatan Mental Menjadi Konten: Hilangnya Empati di Era Media Sosial - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera

Ketika Gangguan Kesehatan Mental Menjadi Konten: Hilangnya Empati di Era Media Sosial


Ketika Kamera Lebih Cepat Menyala daripada Rasa Empati

Ada sesuatu yang semakin sering terjadi di zaman media sosial. Seseorang terlihat berbicara sendiri di jalan. Ada orang yang menangis dan mengalami ledakan emosi di tempat umum. Seseorang tampak kebingungan, berteriak, atau menunjukkan perilaku yang tidak biasa.

Apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya?

Sebagian mungkin mencoba mendekat dan membantu.

Tetapi tidak sedikit yang justru melakukan hal lain.

Mereka mengeluarkan ponsel.

Menyalakan kamera.

Merekam.

Mengunggah.

Lalu menunggu komentar, jumlah penonton, dan mungkin video tersebut menjadi viral.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: kapan penderitaan manusia berubah menjadi hiburan?

Media sosial telah mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Kita sekarang dapat mengetahui berbagai peristiwa hanya dalam hitungan detik. Kita dapat menyebarkan informasi, membangun solidaritas, bahkan membantu seseorang yang sedang membutuhkan.

Namun, teknologi juga membawa persoalan baru.

Tidak semua hal yang bisa direkam seharusnya direkam.

Tidak semua hal yang viral layak dijadikan tontonan.

Dan yang paling penting, tidak semua penderitaan manusia adalah konten.


Gangguan Kesehatan Mental Bukan Pertunjukan

Ketika seseorang mengalami krisis kesehatan mental di ruang publik, kita mungkin tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kita tidak tahu latar belakang kehidupannya.

Kita tidak tahu apakah ia sedang mengalami tekanan berat.

Kita tidak tahu apakah ia sedang mendapatkan perawatan.

Kita tidak tahu apakah keluarganya sedang mencarinya.

Kita bahkan mungkin tidak tahu apakah perilaku yang kita lihat benar-benar berkaitan dengan gangguan kesehatan mental.

Tetapi internet sering tidak membutuhkan kepastian.

Cukup beberapa detik video.

Kemudian muncul berbagai komentar:

“Orang gila.”

“Lucu sekali.”

“Pasti sedang kambuh.”

“Konten lagi.”

“Kasihan, tapi videonya lucu.”

Masalahnya bukan hanya pada kata-kata tersebut.

Masalah yang lebih besar adalah ketika kita mulai melihat seseorang bukan sebagai manusia, tetapi sebagai objek tontonan.

Orang yang sedang mengalami kesulitan berubah menjadi video.

Video berubah menjadi konten.

Konten menghasilkan perhatian.

Dan perhatian menjadi sesuatu yang bernilai di media sosial.

Di tengah sistem seperti ini, empati bisa menjadi korban pertama.


Ekonomi Perhatian dan Penderitaan Manusia

Kita hidup dalam apa yang bisa disebut sebagai ekonomi perhatian.

Perhatian manusia sekarang memiliki nilai.

Semakin banyak orang melihat sebuah video, semakin besar peluang video tersebut mendapatkan interaksi. Semakin banyak interaksi, semakin besar kemungkinan konten tersebut tersebar lebih luas.

Masalahnya, emosi yang kuat sering menarik perhatian.

Kemarahan.

Kejutan.

Ketakutan.

Kesedihan.

Perilaku yang dianggap aneh.

Karena itu, seseorang yang sedang berada dalam kondisi paling rentan justru dapat menjadi objek yang paling mudah menarik perhatian.

Inilah ironi media sosial.

Di satu sisi, kita semakin sering berbicara tentang kesehatan mental.

Di sisi lain, kita kadang masih memperlakukan orang yang mengalami masalah kesehatan mental tanpa rasa hormat.

Kita menggunakan istilah “mental health awareness”, tetapi masih tertawa ketika melihat seseorang mengalami kesulitan.

Kita membagikan kutipan tentang empati, tetapi tanpa berpikir panjang membagikan video seseorang yang sedang berada dalam kondisi rentan.

WHO mengingatkan bahwa media memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memandang kesehatan mental. Penyajian yang akurat dan manusiawi dapat membantu mengurangi stigma, tetapi pemberitaan atau konten yang memperkuat stereotip dapat menyebabkan diskriminasi dan membuat orang semakin takut mencari bantuan.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya: “Apakah video ini menarik?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah kita sedang menjaga martabat seseorang?”


Kamera Tidak Selalu Berarti Kepedulian

Tentu saja, tidak semua rekaman di media sosial dibuat dengan niat buruk.

Ada situasi tertentu ketika dokumentasi dapat membantu.

Video dapat menjadi bukti.

Rekaman dapat membantu mencari keluarga seseorang.

Dokumentasi dapat digunakan untuk meminta bantuan.

Media sosial juga dapat menjadi sarana menyebarkan informasi dan membangun solidaritas.

Namun, niat baik tidak selalu menghapus dampak buruk.

Kita perlu membedakan antara mendokumentasikan untuk membantu dan merekam untuk menjadikan seseorang tontonan.

Perbedaannya dapat terlihat dari beberapa pertanyaan sederhana:

Apakah orang tersebut dapat dikenali?

Apakah wajahnya perlu ditampilkan?

Apakah video itu benar-benar diperlukan?

Apakah unggahan tersebut membantu orang itu?

Atau sebenarnya hanya membantu kita mendapatkan perhatian?

Kadang kita mengatakan, “Saya hanya ingin orang lain tahu.”

Tetapi sebenarnya kita juga perlu bertanya: orang lain perlu tahu untuk melakukan apa?

Jika jawabannya tidak jelas, mungkin video tersebut memang tidak perlu diunggah.


Ketika Komentar Menjadi Bentuk Kekerasan Baru

Masalah tidak berhenti ketika video diunggah.

Kadang penderitaan terbesar justru dimulai setelahnya.

Kolom komentar bisa menjadi tempat yang sangat kejam.

Orang-orang yang tidak mengenal seseorang dapat membuat diagnosis sendiri.

“Dia pasti bipolar.”

“Dia skizofrenia.”

“Kurang iman.”

“Kurang ibadah.”

“Pantas saja keluarganya meninggalkan dia.”

Semua kesimpulan itu dibuat hanya berdasarkan beberapa detik video.

Inilah salah satu masalah besar dalam percakapan kesehatan mental di era digital: terlalu banyak orang merasa dapat melakukan diagnosis dari kejauhan.

Kita melihat satu perilaku.

Kemudian memberi label.

Melihat satu video.

Kemudian menyimpulkan seluruh kehidupan seseorang.

Padahal kondisi kesehatan mental sangat kompleks dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan potongan video.

Media sosial memang telah membuka ruang percakapan yang lebih luas mengenai kesehatan mental. Penelitian juga menunjukkan bahwa cerita dan keterbukaan mengenai pengalaman kesehatan mental dapat membantu meningkatkan pemahaman dan mengurangi stigma dalam kondisi tertentu.

Namun, ada perbedaan besar antara seseorang yang memilih menceritakan pengalamannya sendiri dan seseorang yang kehilangan privasinya karena direkam orang lain.

Yang pertama adalah suara.

Yang kedua bisa menjadi eksploitasi.


Awareness Tidak Sama dengan Mengonsumsi Penderitaan


Inilah persoalan yang menurut saya jarang dibicarakan secara serius.

Kita hidup di masa ketika kata awareness sangat populer.

Mental health awareness.

Self-love awareness.

Trauma awareness.

Namun, kesadaran tidak boleh berhenti pada kemampuan mengenali istilah-istilah psikologis.

Seseorang bisa tahu apa itu anxiety.

Ia bisa tahu apa itu bipolar disorder.

Ia bisa tahu istilah trauma.

Tetapi tetap tidak memiliki empati terhadap orang yang sedang mengalami penderitaan nyata.

Kita mungkin sudah semakin pintar berbicara tentang kesehatan mental.

Tetapi apakah kita juga semakin manusiawi?

Ini adalah pertanyaan yang jauh lebih penting.

Kesadaran tanpa empati dapat berubah menjadi sekadar pengetahuan.

Pengetahuan tanpa tanggung jawab bahkan bisa menjadi alat untuk menghakimi orang lain.

Kita mulai menggunakan istilah psikologi untuk memberi label.

“Narsistik.”

“Bipolar.”

“Depresi.”

“Trauma.”

Semua istilah itu digunakan secara sembarangan dalam percakapan sehari-hari.

Padahal, semakin populer pembicaraan tentang kesehatan mental, semakin besar pula tanggung jawab kita dalam menggunakan bahasa.


Algoritma Tidak Memiliki Empati, Tetapi Kita Memilikinya

Salah satu persoalan terbesar dunia digital adalah algoritma.

Algoritma bekerja berdasarkan perhatian dan interaksi.

Ia tidak memiliki rasa malu.

Ia tidak merasa sedih.

Ia tidak memiliki belas kasihan.

Jika sebuah video membuat banyak orang berhenti menonton, berkomentar, atau membagikannya, sistem dapat menganggap konten tersebut menarik.

Masalahnya, manusia tidak boleh bekerja seperti algoritma.

Kita memiliki kemampuan untuk berhenti.

Kita bisa memilih untuk tidak membagikan.

Kita bisa menolak memberikan komentar yang merendahkan.

Kita bisa melaporkan konten yang mengeksploitasi seseorang.

WHO dalam pembahasannya mengenai kehidupan digital juga menekankan bahwa lingkungan digital memiliki dampak yang kompleks terhadap kesehatan mental. Media sosial dapat menjadi tempat dukungan dan komunitas, tetapi juga dapat memperbesar risiko tertentu, terutama bagi orang-orang yang sudah berada dalam kondisi rentan.

Karena itu, kita tidak perlu melihat teknologi sebagai musuh.

Masalahnya bukan sekadar ponsel.

Bukan sekadar media sosial.

Masalahnya adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi terhadap manusia lainnya.


Empati Digital: Keterampilan yang Kita Butuhkan Hari Ini

Mungkin kita perlu mulai berbicara tentang sesuatu yang sederhana: empati digital.

Empati digital berarti membawa nilai kemanusiaan ketika kita berada di dunia online.

Sebelum membagikan sesuatu, kita bertanya:

Bagaimana jika orang dalam video itu adalah anggota keluarga saya?

Bagaimana jika itu anak saya?

Ayah saya?

Ibu saya?

Teman saya?

Atau bahkan saya sendiri?

Apakah saya ingin seluruh dunia melihat saya ketika sedang berada pada titik terburuk dalam hidup?

Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita menggunakan media sosial.

Empati digital berarti memahami bahwa seseorang tetap memiliki martabat meskipun sedang mengalami krisis.

Ia tetap manusia meskipun perilakunya tidak kita pahami.

Ia tetap memiliki hak atas penghormatan meskipun kita tidak mengenalnya.

Jangan Jadikan Manusia sebagai Konten

Mungkin inilah kalimat paling sederhana yang perlu kita ingat:

Tidak semua yang terjadi di depan mata harus masuk ke internet.

Ada saat ketika tindakan terbaik bukanlah merekam.

Tetapi membantu.

Ada saat ketika tindakan terbaik bukanlah membagikan.

Tetapi menjaga privasi.

Ada saat ketika tindakan terbaik bukanlah berkomentar.

Tetapi diam.

Dan ada saat ketika tindakan terbaik bukanlah mencoba menjadi ahli.

Tetapi menghubungkan seseorang kepada orang yang dapat memberikan pertolongan yang tepat.

Orang yang mengalami gangguan kesehatan mental tidak membutuhkan masyarakat yang sempurna.

Mereka membutuhkan masyarakat yang lebih manusiawi.

Masyarakat yang tidak langsung memberi label.

Masyarakat yang tidak menjadikan penderitaan sebagai hiburan.

Masyarakat yang memahami bahwa diagnosis bukan seluruh identitas seseorang.

Dan masyarakat yang masih mampu melihat manusia di balik sebuah video.


Sebelum Menekan Tombol Upload

Teknologi telah memberi kita kekuatan yang luar biasa.

Dengan satu tombol, kita dapat membuat sesuatu dilihat oleh ribuan bahkan jutaan orang.

Tetapi kekuatan selalu membutuhkan tanggung jawab.

Sebelum menekan tombol upload, mungkin kita perlu berhenti beberapa detik.

Bukan untuk memikirkan apakah konten ini akan viral.

Tetapi untuk bertanya:

Apakah unggahan ini membantu seseorang atau justru mempermalukannya?

Apakah saya sedang menyebarkan informasi atau mengeksploitasi penderitaan?

Apakah saya masih melihat orang ini sebagai manusia?

Karena pada akhirnya, ukuran kemajuan teknologi bukan hanya seberapa cepat kita dapat merekam kehidupan.

Tetapi juga seberapa besar kita masih mampu mempertahankan kemanusiaan ketika semua orang memiliki kamera di tangannya.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar perhatian, tindakan paling revolusioner yang masih bisa kita lakukan adalah sesuatu yang sederhana: memilih untuk tetap berempati.

BACA JUGA:

Penyakit Jiwa Bukan Candaan

Ketika Gangguan Kesehatan Mental Menjadi Konten: Hilangnya Empati di Era Media Sosial Ketika Gangguan Kesehatan Mental Menjadi Konten: Hilangnya Empati di Era Media Sosial Reviewed by Admin Brinovmarinav on 10.58 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.