“Jangan Panggil Aku Gila”
Bayangkan seseorang sedang berjuang memahami apa yang terjadi dalam pikirannya.
Ia mendengar suara yang tidak didengar orang lain.
Ia merasa ketakutan ketika orang-orang di sekitarnya tidak memahami apa yang sedang dialaminya.
Ia berusaha menjalani kehidupan seperti biasa, tetapi pikirannya terkadang membawa dirinya ke tempat yang tidak bisa dipahami oleh orang lain.
Kemudian, di tengah perjuangan itu, ia mendengar sebuah panggilan:
“Orang gila.”
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah kata.
Bahkan mungkin dianggap sebagai bahan candaan.
Tetapi bagi seseorang yang sedang berusaha pulih dari gangguan kesehatan mental, kata itu bisa menjadi luka baru.
Karena ia bukan hanya harus menghadapi kondisinya.
Ia juga harus menghadapi cara masyarakat memandang dirinya.
Inilah yang sering tidak kita sadari.
Seseorang dapat mengalami penderitaan karena gangguan kesehatan mental yang sedang dialaminya. Tetapi ia juga dapat mengalami penderitaan kedua karena stigma, ejekan, penolakan, dan label yang diberikan oleh lingkungan.
Karena itu, mungkin kita perlu mulai dari sesuatu yang sederhana:
Jangan panggil aku gila.
Ketika Kita Terlalu Mudah Memberi Label
Kita masih sering menemukan seseorang yang berbicara sendiri di jalan, tertawa sendiri, mengenakan pakaian yang tidak terurus, atau menunjukkan perilaku yang tidak biasa.
Reaksi masyarakat sering kali hampir sama.
Orang-orang melihat.
Sebagian menjauh.
Sebagian tertawa.
Sebagian lagi langsung berkata:
“Orang gila.”
Padahal kita sebenarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Tidak semua perilaku yang tidak biasa dapat langsung dijelaskan dengan satu diagnosis. Kita juga tidak dapat menentukan kondisi kesehatan mental seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat selama beberapa menit.
Tetapi masalahnya memang bukan hanya soal ketidaktahuan.
Masalahnya adalah kebiasaan kita yang terlalu cepat mengubah seseorang menjadi sebuah label.
Ketika kita menyebut seseorang dengan kata yang merendahkan, kita berhenti melihat dirinya sebagai manusia yang utuh.
Kita tidak lagi melihat seseorang yang mungkin memiliki keluarga.
Memiliki masa lalu.
Memiliki mimpi.
Memiliki ketakutan.
Memiliki kemampuan.
Memiliki kenangan.
Kita hanya melihat satu hal:
“Dia gila.”
Padahal manusia tidak seharusnya diringkas menjadi satu label.
Skizofrenia Bukan Identitas Seseorang
Salah satu kondisi kesehatan mental yang sering mendapatkan stigma berat adalah skizofrenia.
Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental yang dapat memengaruhi cara seseorang memahami realitas, berpikir, merasakan, dan berperilaku. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat mengalami psikosis, termasuk delusi atau halusinasi.
Tetapi ada satu hal penting yang perlu kita ingat:
Seseorang bukanlah skizofrenianya.
Ia adalah manusia yang hidup dengan kondisi tersebut.
Perbedaan ini mungkin tampak kecil dalam bahasa, tetapi sangat besar dalam cara kita memandang seseorang.
Ketika kita hanya melihat diagnosis, kita dapat lupa melihat manusianya.
Padahal seseorang dengan skizofrenia mungkin adalah seorang anak yang pernah menjadi kebanggaan orang tuanya.
Ia mungkin seorang kakak yang pernah menjaga adiknya.
Ia mungkin seorang teman yang dulu selalu membuat orang lain tertawa.
Ia mungkin pernah memiliki pekerjaan.
Memiliki cita-cita.
Memiliki rencana.
Gangguan kesehatan mental dapat menjadi bagian penting dari kehidupannya, tetapi tidak pernah menjadi seluruh identitas dirinya.
Stigma: Penderitaan Kedua yang Sering Tidak Terlihat
Gangguan kesehatan mental sudah cukup berat untuk dihadapi.
Namun, banyak orang harus menghadapi persoalan lain setelahnya:
stigma.
Stigma muncul ketika masyarakat memiliki pandangan negatif terhadap seseorang hanya karena kondisi kesehatan mentalnya.
Ia dianggap tidak mampu.
Dianggap tidak bisa dipercaya.
Dianggap berbahaya.
Dianggap tidak memiliki masa depan.
Atau bahkan dianggap tidak pantas hidup seperti orang lain.
Padahal setiap orang memiliki kondisi dan pengalaman yang berbeda.
Kementerian Kesehatan Indonesia masih menyoroti bahwa stigma terhadap masalah kesehatan jiwa dapat memperburuk kondisi seseorang, menghambat proses pemulihan, dan membuat orang takut mencari bantuan.
Inilah yang membuat stigma begitu berbahaya.
Gangguan kesehatan mental mungkin membutuhkan penanganan medis dan psikososial.
Tetapi stigma datang dari lingkungan.
Dari tetangga.
Dari teman.
Dari tempat kerja.
Dari komunitas.
Bahkan kadang dari keluarga sendiri.
Seseorang yang sedang berusaha pulih dapat kembali merasa dirinya tidak berharga karena cara orang lain memperlakukannya.
Maka benar jika kita mengatakan bahwa bagi sebagian orang, stigma adalah luka kedua.
“Saya Sedang Berobat, Tetapi Mengapa Saya Masih Dipanggil Gila?”
Inilah bagian yang menurut saya paling menyentuh.
Ada orang yang menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan kesehatan mental.
Ia mau berobat.
Ia mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Ia berusaha menjalani pengobatan.
Ia berusaha mengatur kehidupannya.
Ia berusaha kembali beradaptasi dengan masyarakat.
Tetapi ketika keluar dari rumah, ia masih harus menghadapi pandangan orang lain.
“Dia pernah masuk rumah sakit jiwa.”
“Hati-hati, dia pernah gila.”
“Jangan terlalu dekat dengannya.”
Bayangkan betapa beratnya perjuangan itu.
Seseorang sudah berusaha keras untuk pulih.
Tetapi masyarakat tidak mau memberinya kesempatan untuk kembali menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Padahal pemulihan bukan hanya soal gejala yang berkurang.
Pemulihan juga membutuhkan kesempatan untuk hidup.
Untuk bekerja.
Untuk memiliki hubungan sosial.
Untuk mengambil bagian dalam masyarakat.
WHO menekankan pentingnya pendekatan pemulihan yang memberi ruang bagi orang dengan skizofrenia untuk memiliki peran dan keterlibatan dalam keputusan tentang kehidupannya, dengan dukungan keluarga dan komunitas.
Karena itu, pertanyaan kita seharusnya bukan:
“Apakah dia pernah mengalami gangguan jiwa?”
Tetapi:
“Apakah kita mau memberikan kesempatan kepadanya untuk tetap menjadi manusia yang memiliki kehidupan?”
Tidak Ada Satu Penyebab Sederhana
Di masa lalu, kita sering mendengar penjelasan yang sangat sederhana tentang gangguan jiwa.
Ada yang mengatakan karena kurang iman.
Ada yang menghubungkannya dengan gangguan gaib.
Ada yang menyalahkan keluarga.
Ada pula yang menyederhanakannya sebagai masalah “saraf”.
Pemahaman kesehatan mental hari ini mengajarkan kita untuk lebih rendah hati.
Skizofrenia tidak memiliki satu penyebab tunggal yang sederhana. Berbagai faktor biologis, genetik, lingkungan, dan psikososial dapat berperan dalam perjalanan kondisi seseorang.
Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menjelaskan penyebab gangguan kesehatan mental.
Kita juga tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa seseorang mengalami gangguan mental karena kurang kuat, kurang bersyukur, atau kurang beriman.
Keyakinan dan dukungan spiritual dapat menjadi sumber kekuatan bagi banyak orang. Tetapi gangguan kesehatan mental tidak seharusnya disederhanakan sebagai kegagalan iman.
Seseorang dapat memiliki iman dan tetap membutuhkan dokter.
Seseorang dapat berdoa dan tetap membutuhkan pengobatan.
Seseorang dapat memiliki keluarga yang penuh kasih dan tetap mengalami gangguan kesehatan mental.
Memahami hal ini adalah bagian dari mengurangi stigma.
Perjuangan yang Tidak Selalu Dilihat Orang Lain
Sebagai keluarga atau caregiver, kita kadang melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh masyarakat.
Orang lain mungkin hanya melihat ketika seseorang sedang mengalami episode atau krisis.
Mereka melihat perilakunya yang berbeda.
Mereka melihat ketika ia berbicara sendiri.
Mereka melihat ketika ia sulit mengendalikan dirinya.
Tetapi mereka tidak melihat perjuangan sehari-hari.
Mereka tidak melihat seseorang yang berusaha mengikuti pengobatan.
Tidak melihat perjuangan menghadapi efek samping.
Tidak melihat usaha untuk kembali tidur dengan teratur.
Tidak melihat ketakutan ketika gejala mulai muncul kembali.
Tidak melihat rasa malu ketika harus kembali menjelaskan kondisinya kepada orang lain.
Tidak melihat usaha keras untuk menjalani kehidupan yang bagi orang lain mungkin terlihat biasa saja.
Bagi sebagian orang, bangun pagi dan menjalani hari mungkin bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan.
Tetapi bagi orang lain, itu bisa menjadi kemenangan.
Masyarakat sering melihat kegagalan seseorang ketika ia mengalami kekambuhan.
Padahal kita jarang melihat berapa banyak hari yang telah ia perjuangkan sebelumnya.
“Mengapa Suara Itu Datang Lagi?”
Salah satu pengalaman yang sulit dipahami oleh orang lain adalah ketika seseorang mengalami gejala psikosis.
Ia mungkin mendengar sesuatu yang tidak didengar orang lain.
Ia mungkin memiliki keyakinan atau pengalaman yang bagi orang lain terasa tidak sesuai dengan kenyataan.
Tetapi bagi orang yang sedang mengalaminya, pengalaman tersebut bisa terasa sangat nyata dan menakutkan.
Di sinilah empati sangat dibutuhkan.
Kita tidak harus menyetujui semua yang dikatakan seseorang.
Tetapi kita dapat memahami bahwa ketakutan yang dirasakannya mungkin sungguh nyata bagi dirinya.
Daripada menertawakan, kita dapat membantu menciptakan situasi yang lebih tenang.
Daripada mempermalukan, kita dapat mencari bantuan yang tepat.
Daripada menjadikan kondisinya sebagai cerita untuk orang lain, kita dapat menjaga martabatnya.
Empati tidak berarti kita harus memahami seluruh pengalaman seseorang.
Empati berarti kita tidak menambahkan penghinaan kepada penderitaan yang sudah ada.
Keluarga dan Caregiver Juga Membawa Beban yang Tidak Selalu Terlihat
Ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan mental, perhatian masyarakat biasanya tertuju kepada orang tersebut.
Tetapi ada orang lain yang sering tidak terlihat:
keluarganya.
Ada ibu yang setiap hari khawatir.
Ada saudara yang berusaha memahami perubahan kondisi.
Ada pasangan yang belajar menghadapi situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Ada caregiver yang harus membagi waktu, tenaga, emosi, dan kehidupannya sendiri.
Mereka juga bisa mengalami kelelahan.
Ketakutan.
Kesedihan.
Kebingungan.
Dan terkadang rasa bersalah.
Yang lebih menyakitkan, keluarga juga bisa menerima stigma.
“Anaknya kenapa begitu?”
“Pasti salah didikan.”
“Jangan-jangan keluarganya memang bermasalah.”
Padahal keluarga sering kali sedang berusaha sekuat tenaga.
WHO bahkan memasukkan dukungan bagi keluarga dan caregiver sebagai bagian penting dari penanganan psikosis, termasuk psikoedukasi dan intervensi keluarga.
Karena itu, ketika kita ingin peduli terhadap kesehatan mental, jangan hanya bertanya tentang orang yang sedang sakit.
Tanyakan juga:
“Bagaimana keadaan keluarganya?”
Kadang caregiver juga membutuhkan seseorang yang mendengarkan.
Jangan Panggil Aku Gila
Mungkin seseorang yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental tidak selalu dapat menjelaskan apa yang sedang ia rasakan.
Mungkin ia tidak selalu mampu membela dirinya.
Mungkin pada saat tertentu ia bahkan tidak menyadari bagaimana orang lain sedang membicarakannya.
Tetapi itu tidak berarti kata-kata kita tidak memiliki dampak.
Bahasa membentuk cara kita memandang manusia.
Ketika kita terus menggunakan kata “gila” sebagai penghinaan, kita mempertahankan gagasan bahwa orang dengan gangguan kesehatan mental adalah manusia yang lebih rendah.
Padahal mereka tetap memiliki martabat.
Mereka tetap memiliki hak untuk dihormati.
Mereka tetap memiliki kehidupan.
Mereka tetap memiliki kemungkinan untuk pulih dan menjalani kehidupan yang bermakna.
Kementerian Kesehatan telah lama menyerukan penghentian stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan jiwa, termasuk penolakan dalam pelayanan, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.
Maka perubahan mungkin dimulai dari sesuatu yang kecil.
Dari cara kita berbicara.
Dari kata yang kita pilih.
Dari keputusan untuk tidak menjadikan seseorang bahan candaan.
Dari keberanian untuk menghentikan teman ketika ia menggunakan istilah yang merendahkan.
Jika Tidak Bisa Menolong, Jangan Menambah Penderitaan
Tidak semua orang tahu bagaimana membantu seseorang dengan skizofrenia atau gangguan kesehatan mental lainnya.
Dan itu tidak apa-apa.
Kita tidak semua harus menjadi dokter.
Kita tidak semua harus menjadi psikolog.
Kita tidak semua tahu apa yang harus dilakukan dalam setiap situasi.
Tetapi kita bisa belajar satu hal:
Jika belum mampu menolong, jangan menambah penderitaannya.
Jangan mengejek.
Jangan memberi label.
Jangan menyebarkan cerita.
Jangan menjadikan perilaku seseorang sebagai tontonan.
Jangan menghakimi keluarganya.
Jangan menganggap seluruh identitas seseorang hanya berdasarkan diagnosisnya.
Kadang kepedulian tidak selalu berbentuk tindakan besar.
Kadang kepedulian dimulai dari keputusan sederhana untuk memperlakukan seseorang dengan hormat.
Mereka Bukan Label yang Kita Berikan
Pada akhirnya, seseorang dengan skizofrenia bukan “orang gila”.
Ia adalah manusia.
Manusia yang mungkin sedang mengalami perjuangan yang tidak kita pahami.
Manusia yang mungkin sedang berusaha melawan sesuatu yang tidak terlihat oleh kita.
Manusia yang mungkin sedang menjalani pengobatan.
Manusia yang mungkin ingin kembali bekerja, berteman, mencintai, dan menjalani kehidupan.
Dan seperti semua manusia lainnya, ia tidak ingin penderitaannya menjadi alasan untuk kehilangan harga dirinya.
Mungkin kita memang tidak bisa menyembuhkan semua orang.
Tetapi kita bisa memilih untuk tidak menambah sakit mereka.
Kita bisa memilih untuk tidak menambah stigma.
Kita bisa memilih untuk tidak menambah rasa malu.
Kita bisa memilih untuk melihat manusia sebelum melihat diagnosis.
Karena mungkin, jika kita benar-benar mau mendengarkan, pesan yang ingin mereka sampaikan sangat sederhana: “Saya memang sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Tetapi saya tetap manusia. Jadi, jangan panggil saya gila.”
BACA JUGA:
Jangan Panggil Aku Gila: Ketika Label Menjadi Luka Kedua bagi Orang dengan Gangguan Jiwa
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
11.44
Rating:
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
11.44
Rating:

Tidak ada komentar: