Jangan Panggil Aku Gila - MAKKELLAR.COM

Jangan Panggil Aku Gila


Panggilan orang gila sering ditujukan kepada mereka yang bicara sendiri, tertawa sendiri dan berjalan dengan baju compang-camping di jalanan dengan pandangan sebelah mata. Tapi tegakah kita menyebut mereka yang sedang sakit dengan pandangan melecehkan disertai kata-kata menyakitkan itu? 

Mereka yang mengalami skizofrenia (mental disorder) sedang menderita sakit, masihkah kita menambah penderitaannya dengan memanggilnya Orang Gila. Tahukah kita bahwa memberikan label mereka yang mengalami disabilitas psikosial termasuk skizofrenia sering mengalami pelecehan mental.

Padahal dengan mengembangkan pola pikir di mana memandang mereka yang mengalami disabilitas psikosial tersebut dengan pandangan yang negatif, maka bukan hanya penderita yang menjadi korban pelecehan tersebut dengan semakin terpuruknya mereka. Tapi juga keluarganya merasa malu bila memiliki anggota keluarganya yang mengalami penyakit tersebut.

Memanggil mereka orang gila kepada mereka yang tidak menyadari apa arti panggilan itu mungkin dianggap tidak menyakitkan, tapi panggilan orang gila kepada mereka yang dalam mengobatan itu akan menambah jatuhnya mental mereka dalam titik paling bawah. Tapi bukankah hal ini yang sering kita saksikan di berbagai tempat di mana memberi label kepada mereka yang memiliki masalah dengan kejiwaan itu dengan kata gila, gelo, edan, gendeng dan seterusnya.

Karena kata orang gila itu sendiri sudah kadung dimaknai sebagai status yang tanpa ada harga diri. Maka tulisan di liputan6 ini menjadi sangat tepat yang menyebut bahwa tidak ada orang gila di dunia ini. Yang ada adalah mereka yang mengalami gangguan jiwa berat atau skizofrenia.

Setiap konsultasi dengan dokter ahli jiwa, selalu diingatkan bahwa gangguan kejiwaan ini tidak ada hubungannya dengan kurangnya iman kepada Tuhan, atau karena diguna-guna orang lain, atau karena gangguan syaraf. Tapi gangguan jiwa ini karena adanya ketidakseimbangan di dalam otak yang menjadikan perilakunya berbeda dengan orang kebanyakan. Obat-obatan itulah yang menjadi usaha untuk menyeimbangkan.

Penyakit gangguan jiwa atau skizofrenia itu sebenarnya sama dengan mereka yang memiliki penyakit fisik seperti darah tinggi atau diabetes yang mengharuskan penderitanya harus mengkonsumsi obat terus-menerus. Maka penderita skizofrenia adalah penyakit jiwa adalah penderita yang harus minum obat terus-menerus supaya bisa menolong dirinya.

Sebagai caregiver terhadap anggota keluarga yang mengalaminya, bila ia sedang merenungkan dirinya yang memiliki kelainan jiwa, terkadang ia merasa rendah diri karena penyakitnya itu. Ia merasa dirinya berbeda dengan saudara-saudaranya yang ceriah, dan mudah beradaptasi. Sementara dirinya yang selalu rutin minum obat merasa ada 'sesuatu' yang membuatnya rendah diri dalam pergaulan. Jangan panggil aku orang gila.

Seperti mereka yang sakit secara fisik, mereka yang mengalami gangguan jiwa itu bukan tidak berbuat apa-apa untuk menolong dirinya sendiri. Dia begitu kerasnya berjuang supaya ketika gangguan itu datang menyerang ia bisa mengendalikan dirinya. Walaupun gagal, tapi perjuangan itu terus dilakukan tanpa henti. Ia menyerah ketika ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ia pun sebenarnya tidak mengerti mengapa dirinya mengalami seperti itu. 

Mengapa suara-suara itu muncul dan mengganggu pikirannya? Mengapa orang-orang yang menertawakan dirinya itu terkadang menguasai pikirannya. Ia sadar bahwa semua itu sebenarnya tidak ada, tapi ia tidak mampu untuk mengusirnya dan menghilangkan dari perasaannya. 

Jangan panggil aku orang gila, karena penderitaan yang dimiliki oleh mereka yang mengalami gangguan skizofrenia memiliki penderitaan ganda. Sakit menderita karena gangguan itu sendiri, tapi juga sakit karena sudah diberi label gila.


Jangan Panggil Aku Gila Jangan Panggil Aku Gila Reviewed by Hati Kita on 21.49 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.