Schizophrenia, Jangan Anggap enteng Keinginan Bunuh Diri


Berusaha mengerti dan memahami orang yang memiliki penyakit schizophrenia sangat penting. Apalagi hal itu dialami oleh anggota keluarga. Setiap kata yang keluar ingin bunuh diri merupakan keseriusan yang tidak boleh dianggap angin lalu. Melakukan pendekatan yang manusiawi sangat dianjurkan seperti segera dibawa ke dokter jiwa.

Pengalaman menjadi caregiver terhadap anggota keluarga yang megalami menjadi pelajaran yang sangat berharga. Karena ketika kita tidak memiliki pengalaman untuk mendampingi, awalnya setiap ucapan ingin bunuh diri itu sebagai sesuatu yang mengada-ngada, dan kami anggap hanya ingin mencari perhatian. Padahal sebenarnya keinginan itu keluar dari rasa ingin melakukannya. 

Dua kejadian yang awalnya saya anggap biasa-biasa saja ketika anak saya masuk dalam usia remaja SMP kelas tiga. Sepulang dari sekolah saya menjemput dengan menggunakan sepeda motor. Dari raut wajahnya, terlihat sangat tertekan dan cemas. Ketika saya mencoba menanyakan, "Bagaimana dengan sekolahnya, apakah semuanya baik-baik saja?" Dia tidak menjawab. Dan sambil saya menyetir sepeda motor saya hanya terdiam.

Tapi, tiba-tiba dia menangis dan sambil mengatakan, "Saya lebih baik mati saja." Saya memang terkejut, tapi ucapannya itu saya anggap hanya karena kesal dengan guru atau teman atau siapapun di sekolahnya. Kemudian saya mencoba bertanya, "Kenapa?" Dia terdiam dan tidak menjawab. Terus terang, kata itu saya anggap sebuah kata yang akan berakhir di jalan.

Namun setelah peristiwa tersebut tingkah lakunya bertambah aneh yang membuat saya kewalahan menghadapinya. Suatu pagi-pagi buta sekitar pukul 1 dini hari tiba-tiba ia naik ke atas atap rumah melalui sebuah tangga. Kebetulan saat itu rumah sedang kami renovasi dua lantai dan ia duduk-duduk di situ. Tindakan yang belum pernah sebelumnya dilakukan. Dan hal itu yang membuat saya mulai timbul kekhawatiran.

Ketika saya mengejarnya, ia berusaha lari, tapi saya mencoba untuk mengajaknya bicara. Tapi ternyata isi pembicaraannya sudah mulai tidak masuk di akal. Contohnya, menurutnya ada pencuri yang akan masuk ke rumah. Ada orang yang berbicara mengata-ngatai dirinya dan seterusnya. Tapi dalam pikiran terngiang-ngiang kata-kata ketika sepulang sekolah itu, "Saya lebih baik mati saja."

Tidak berselang lama dari ia naik ke atap rumah itu, ia berada di lantai dua di dekat kamarnya. Sebagai orang tua saya akhirnya terus menanyakan, kenapa ia berubah dalam banyak hal? Dan ia berusaha menjelaskan dengan alasan dan penjelasan yang tidak masuk di akal sehingga saya selalu mendebat setiap kata-kata yang ia keluarkan. Contohnya, ia curiga kalau dirinya bukan anak, tapi anak pungut dan banyak argumen lainnya yang tentu saja saya hadapi dengan berdebat untuk meyakinkan dia dan meluruskan cara berpikirnya. 

Padahal cara saya mendebat dia tentu saja akan menambah dia semakin gelisah, semakin terpojok dan akhirnya suatu saat ia mengancam akan menjatuhkan diri dari lantai atas. Sayang, saat itu saya belum menyadari dan mengerti sebenarnya ia sedang mengalami goncangan jiwa dan kegelisahan yang sangat. 

Pikiran saya masih menganggap bahwa mungkin ia kemasukan setan dan perlu untuk didoakan dan dibawa kepada ahli agama untuk ditolong. Bersyukur, bahwa ia tidak melakukan menjatuhkan diri tersebut, tapi hari-hari berikutnya merupakan hari-hari gelap dalam kehidupan ini. Hingga saya berusaha selalu tidur di depan kamarnya karena takut ia akan melakukan niatnya untuk bunuh diri.

Padahal seandainya secepatnya saya membawanya ke psikiater atau dokter jiwa, setidaknya akan cepat mendapatkan pertolongan segera. Tapi, pengalaman adalah guru terbaik.

Schizophrenia, Jangan Anggap enteng Keinginan Bunuh Diri Schizophrenia, Jangan Anggap enteng Keinginan Bunuh Diri Reviewed by Hati Kita on 11.55 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.