<!-- SEO Blogger Start --> <meta content='text/html; charset=UTF-8' http-equiv='Content-Type'/> <meta content='blogger' name='generator'/> <link href='https://www.makkellar.com/favicon.ico' rel='icon' type='image/x-icon'/> <link href='https://www.makkellar.com/2025/07/apakah-orang-yang-religius-cenderung_14.html' rel='canonical'/> <link rel="alternate" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.makkellar.com/feeds/posts/default" /> <link rel="alternate" type="application/rss+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - RSS" href="https://www.makkellar.com/feeds/posts/default?alt=rss" /> <link rel="service.post" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.blogger.com/feeds/2646944499045113697/posts/default" /> <link rel="alternate" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.makkellar.com/feeds/5213985396026428786/comments/default" /> <!--Can't find substitution for tag [blog.ieCssRetrofitLinks]--> <link href='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-rewA0BEIHjtRXQcxrQR_guBJmt7oY2Cl7ZqZuojDGII_noSqa6hEEtsDbAPy3isXJ_omPI2Y3Tcd6ovE-GPsfqv4H-2xpe_vJZKenkDdlBdKoH_OH8lBPUHaOPGh_wpyQ8PfEfXlSiu_oWbaFsFqUoqaYNtRYOlaVjXY7uOiITkBMgajGDeOg6XAqUg/s320/Agama%20Pembawa%20Damai%20Atau%20Pemisah.jpg' rel='image_src'/> <meta content='Artikel ini mengulas bagaimana ketidakjelasan tafsir agama bisa menimbulkan tafsir liar yang memperkuat intoleransi. ' name='description'/> <meta content='https://www.makkellar.com/2025/07/apakah-orang-yang-religius-cenderung_14.html' property='og:url'/> <meta content='Ketika Tafsir Agama Kabur: Bagaimana Tafsir Liar Melahirkan Intoleransi' property='og:title'/> <meta content='Artikel ini mengulas bagaimana ketidakjelasan tafsir agama bisa menimbulkan tafsir liar yang memperkuat intoleransi. ' property='og:description'/> <meta content='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-rewA0BEIHjtRXQcxrQR_guBJmt7oY2Cl7ZqZuojDGII_noSqa6hEEtsDbAPy3isXJ_omPI2Y3Tcd6ovE-GPsfqv4H-2xpe_vJZKenkDdlBdKoH_OH8lBPUHaOPGh_wpyQ8PfEfXlSiu_oWbaFsFqUoqaYNtRYOlaVjXY7uOiITkBMgajGDeOg6XAqUg/w1200-h630-p-k-no-nu/Agama%20Pembawa%20Damai%20Atau%20Pemisah.jpg' property='og:image'/> <!-- Title --> <title> Bukan makelar tapi Menjadi peranta untuk kebaikan bersama Ketika Tafsir Agama Kabur: Bagaimana Tafsir Liar Melahirkan Intoleransi - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera Ketika Tafsir Agama Kabur: Bagaimana Tafsir Liar Melahirkan Intoleransi - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera

Ketika Tafsir Agama Kabur: Bagaimana Tafsir Liar Melahirkan Intoleransi

Intoleransi tidak selalu tumbuh dari kebencian yang dirancang. Banyak kali, ia lahir dari ketidaktahuan, kekaburan, dan tafsir agama yang tidak jelas. Dalam kekosongan itu, muncul apa yang disebut para sosiolog sebagai tafsir liar—interpretasi bebas oleh pengikut yang merasa menemukan kebenaran, padahal ia bergerak di luar kerangka ilmiah maupun bimbingan yang sehat.

Sebagian besar orang beragama bukan ahli tafsir. Mereka mengandalkan pemahaman dari tokoh, komunitas, atau pengalaman pribadi. Ketika ajaran tidak dipaparkan secara jernih dan terbuka, maka:

Ketidakjelasan tafsir akan diisi oleh imajinasi, pengalaman subjektif, atau ketakutan.

Dan dari sinilah intoleransi bisa tumbuh subur, bahkan tanpa sadar.

Tafsir Liar: Celah yang Ditinggalkan oleh Ketidakjelasan

Dalam kondisi tertentu, ketika:

Ajaran agama disampaikan secara kaku tapi tidak utuh,

Penjelasan teologis hanya bersifat satu arah, tanpa dialog atau refleksi kritis,

Dan tidak ada ruang untuk bertanya atau berdiskusi, maka umat mencari jalan sendiri untuk "memaknai". Tapi jalan ini sering terjalin dengan emosi pribadi: trauma, kekecewaan, rasa takut, bahkan superioritas kelompok. Akibatnya, tafsir yang lahir bukan menuntun pada pemahaman, tapi:

Membentuk jarak sosial dengan yang berbeda,

Melahirkan penilaian negatif terhadap agama lain,

Menjadikan perbedaan sebagai ancaman, bukan kekayaan.

Jarak Sosial Memperparah Intoleransi

Ketika tafsir yang keliru mendorong seseorang membuat batas tegas dengan kelompok lain, maka secara psikologis, akan muncul tiga hal:

1. Dehumanisasi: orang dari agama lain tidak lagi dilihat sebagai manusia seutuhnya, tetapi sebagai simbol "kesesatan".

2. Bias Konfirmasi: setiap perbedaan akan ditafsirkan sebagai bukti bahwa “mereka salah, kita benar”.

3. Rasa Superioritas Moral: “kita di jalan lurus, mereka di jalan gelap” — narasi ini memperkuat sekat sosial dan melemahkan empati.

Semakin jauh jarak sosial dan emosional dengan kelompok lain, semakin besar kemungkinan lahirnya intoleransi.

Pengalaman Pribadi: Dari Intoleran ke Toleran

Sebagaimana Anda bagikan, pernah berada di dua sisi—toleran dan intoleran—adalah pengalaman yang sangat reflektif. Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa intoleransi mereka bukan berasal dari ajaran agama yang sejati, melainkan dari:

Tafsir sempit yang mereka dengar tanpa diuji,

Pengalaman negatif yang kemudian dilekatkan kepada semua kelompok yang berbeda,

Ketidakterbukaan terhadap makna keberagamaan yang lebih luas.

Kesadaran akan hal ini bisa menjadi langkah awal untuk pulih dari intoleransi. Ia membuka ruang untuk melihat bahwa perbedaan tidak mengancam keyakinan, tapi justru memperkaya kedalaman iman.

Penutup: Membuka Ruang Tafsir yang Dewasa

Jika intoleransi bisa muncul karena tafsir yang kabur, maka solusinya adalah: 

Mendorong tafsir yang jelas, reflektif, dan terbuka untuk diskusi.

Menyediakan ruang aman dalam komunitas keagamaan untuk bertanya, mencari, dan meragukan tanpa takut dikucilkan.

Menguatkan pendidikan agama yang mengajak umat berpikir kritis dan berempati, bukan hanya menghafal dogma.

Semakin terbuka ruang tafsir, semakin kecil peluang lahirnya interpretasi liar yang berujung pada sekat dan konflik
Ketika Tafsir Agama Kabur: Bagaimana Tafsir Liar Melahirkan Intoleransi Ketika Tafsir Agama Kabur: Bagaimana Tafsir Liar Melahirkan Intoleransi Reviewed by Admin Brinovmarinav on 14.12 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.