Intoleransi tidak selalu tumbuh dari kebencian yang dirancang. Banyak kali, ia lahir dari ketidaktahuan, kekaburan, dan tafsir agama yang tidak jelas. Dalam kekosongan itu, muncul apa yang disebut para sosiolog sebagai tafsir liar—interpretasi bebas oleh pengikut yang merasa menemukan kebenaran, padahal ia bergerak di luar kerangka ilmiah maupun bimbingan yang sehat.
Sebagian besar orang beragama bukan ahli tafsir. Mereka mengandalkan pemahaman dari tokoh, komunitas, atau pengalaman pribadi. Ketika ajaran tidak dipaparkan secara jernih dan terbuka, maka:
Ketidakjelasan tafsir akan diisi oleh imajinasi, pengalaman subjektif, atau ketakutan.
Dan dari sinilah intoleransi bisa tumbuh subur, bahkan tanpa sadar.
Tafsir Liar: Celah yang Ditinggalkan oleh Ketidakjelasan
Dalam kondisi tertentu, ketika:
Ajaran agama disampaikan secara kaku tapi tidak utuh,
Penjelasan teologis hanya bersifat satu arah, tanpa dialog atau refleksi kritis,
Dan tidak ada ruang untuk bertanya atau berdiskusi, maka umat mencari jalan sendiri untuk "memaknai". Tapi jalan ini sering terjalin dengan emosi pribadi: trauma, kekecewaan, rasa takut, bahkan superioritas kelompok. Akibatnya, tafsir yang lahir bukan menuntun pada pemahaman, tapi:
Membentuk jarak sosial dengan yang berbeda,
Melahirkan penilaian negatif terhadap agama lain,
Menjadikan perbedaan sebagai ancaman, bukan kekayaan.
Jarak Sosial Memperparah Intoleransi
Ketika tafsir yang keliru mendorong seseorang membuat batas tegas dengan kelompok lain, maka secara psikologis, akan muncul tiga hal:
1. Dehumanisasi: orang dari agama lain tidak lagi dilihat sebagai manusia seutuhnya, tetapi sebagai simbol "kesesatan".
2. Bias Konfirmasi: setiap perbedaan akan ditafsirkan sebagai bukti bahwa “mereka salah, kita benar”.
3. Rasa Superioritas Moral: “kita di jalan lurus, mereka di jalan gelap” — narasi ini memperkuat sekat sosial dan melemahkan empati.
Semakin jauh jarak sosial dan emosional dengan kelompok lain, semakin besar kemungkinan lahirnya intoleransi.
Pengalaman Pribadi: Dari Intoleran ke Toleran
Sebagaimana Anda bagikan, pernah berada di dua sisi—toleran dan intoleran—adalah pengalaman yang sangat reflektif. Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa intoleransi mereka bukan berasal dari ajaran agama yang sejati, melainkan dari:
Tafsir sempit yang mereka dengar tanpa diuji,
Pengalaman negatif yang kemudian dilekatkan kepada semua kelompok yang berbeda,
Ketidakterbukaan terhadap makna keberagamaan yang lebih luas.
Kesadaran akan hal ini bisa menjadi langkah awal untuk pulih dari intoleransi. Ia membuka ruang untuk melihat bahwa perbedaan tidak mengancam keyakinan, tapi justru memperkaya kedalaman iman.
Penutup: Membuka Ruang Tafsir yang Dewasa
Jika intoleransi bisa muncul karena tafsir yang kabur, maka solusinya adalah:
Mendorong tafsir yang jelas, reflektif, dan terbuka untuk diskusi.
Menyediakan ruang aman dalam komunitas keagamaan untuk bertanya, mencari, dan meragukan tanpa takut dikucilkan.
Menguatkan pendidikan agama yang mengajak umat berpikir kritis dan berempati, bukan hanya menghafal dogma.
Semakin terbuka ruang tafsir, semakin kecil peluang lahirnya interpretasi liar yang berujung pada sekat dan konflik
Ketika Tafsir Agama Kabur: Bagaimana Tafsir Liar Melahirkan Intoleransi
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
14.12
Rating:

Tidak ada komentar: