Mengasihi Hewan Tertentu Tanpa Membenci yang Lain: Refleksi Etika Sosial tentang Empati dan Kekerasan yang Dinormalisasi
Pendahuluan
Di banyak komunitas, kita menemukan fenomena yang tampak sepele namun menyimpan persoalan etis yang dalam, mengasihi satu jenis hewan, tetapi memusuhi jenis hewan lain secara ekstrem. Atau, ketika mengasihi kucing, bukan lalu harus membenci anjing.
Kucing dirawat dengan penuh kasih, diberi makan, dilindungi, dan diperlakukan lembut. Namun di tempat yang sama, anjing, entah yang bertuan atau yang tak bertuan, justru dilempar, diusir, atau diperlakukan kasar tanpa rasa kasih dan bahkan tanpa rasa bersalah.
Pertanyaannya bukan lagi soal kucing atau anjing. Pertanyaan etikanya adalah, bagaimana kasih bisa berubah menjadi pembenaran kekerasan terhadap yang satu atas dasar karena mengasihi yang lain?
Kasih yang Sehat Tidak Membutuhkan Musuh
Dalam etika sosial, kasih yang matang tidak pernah membutuhkan antitesis agar sah. Mengasihi satu makhluk hidup tidak otomatis menuntut kebencian terhadap makhluk hidup lain. Seharusnya kasih itu tanpa pilih kasih dengan alasan apapun. Kecuali kalau kita menganggap bahwa anjing diciptakan oleh pencipta berbeda. Kalau tidak, maka berikut yang akan terjadi.
Masalah muncul ketika kasih:
• berubah menjadi identitas (“kami penyayang hewan tertentu”),
• lalu membutuhkan lawan agar identitas itu terasa benar.
Di titik ini, kasih tidak lagi berdiri di atas empati, melainkan di atas pembedaan tajam antara “yang layak” dan “yang pantas disingkirkan”.
Padahal, secara moral:
• mencintai ≠ menyingkirkan,
• menyayangi ≠ memusuhi.
Ketika Keyakinan Kehilangan Wajah Etisnya
Mengasihi jenis hewan apapun adalah hak setiap orang dengan dilandasi, entah itu keyakinan, ataupun kesukaan dan seterusnya. Sering kali perlakuan kasar terhadap hewan tertentu dibungkus oleh:
• keyakinan,
• tradisi,
• atau tafsir nilai yang diwariskan.
Namun etika sosial mengajarkan satu prinsip mendasar, keyakinan apa pun diuji bukan dari klaim sucinya, tetapi dari dampaknya pada yang lemah.
Seekor anjing entah itu yang bertuan maupun yang tak bertuan:
• tidak punya suara,
• tidak bisa membela diri,
• dan sepenuhnya bergantung pada belas kasih manusia.
Jika atas nama nilai tertentu, penderitaannya dianggap wajar, maka yang sedang terjadi bukan praktik moral, melainkan normalisasi kekerasan kecil yang dianggap sah.
Bahaya “Semangat Memusuhi”
Ada satu kata kunci penting dalam refleksi ini dan seharusnya menjadi perenungan bagi siapapun ketika mengasihi yang satu dan membenci yang lain dan bahkan dianggap “musuh” maka ini yang akan terjadi:
• empati menjadi tumpul,
• kekerasan terasa pantas,
• rasa bersalah menghilang.
Dalam etika sosial, ini adalah tahap awal dehumanisasi, atau dalam konteks ini, de-hewani-sasi, makhluk hidup berhenti dilihat sebagai makhluk yang bisa merasakan sakit.
Yang mengkhawatirkan, pola ini tidak berhenti pada hewan. Sejarah sosial menunjukkan bahwa cara manusia memperlakukan makhluk paling lemah sering menjadi latihan awal bagi kekerasan yang lebih besar.
Ukuran Kedewasaan Moral Sebuah Komunitas
Etika sosial tidak diukur dari, seberapa kuat keyakinan diucapkan, seberapa keras nilai dipertahankan. Ia diukur dari pertanyaan sederhana namun tajam, bagaimana komunitas ini memperlakukan yang tak punya perlindungan?
Hewan tak bertuan, kaum marginal, orang yang berbeda, semuanya menjadi cermin. Jika yang lemah selalu kalah, maka yang kuat sedang kehilangan arah moral.
Kasih yang Memperluas, Bukan Menyempit
Kasih yang sejati memiliki sifat:
• melembutkan,
• memperluas empati,
• dan menahan tangan dari kekerasan, meski ada pembenaran budaya atau simbolik.
Mengasihi kucing karena keyakinan atau kebiasaan adalah hal yang wajar. Namun membiarkan atau melakukan kekerasan terhadap anjing karena alasan yang sama adalah kegagalan etis.
Bukan karena manusia dituntut mencintai semua hal secara sama, tetapi karena tidak ada alasan moral untuk menikmati atau membenarkan penderitaan makhluk lain.
Penutup: Etika Dimulai dari yang Kecil
Etika sosial tidak selalu diuji di ruang besar seperti hukum dan politik. Sering kali ia diuji di lorong sempit kehidupan sehari-hari kita ketika:
• di halaman rumah,
• di gang,
• di cara kita bereaksi pada makhluk yang tak bisa melawan.
Mengasihi satu makhluk hidup seharusnya melatih hati untuk tidak tega pada makhluk hidup lain. Di situlah etika menemukan wujudnya yang paling jujur.
Reviewed by Admin Brinovmarinav
on
13.53
Rating:

Tidak ada komentar: