<!-- SEO Blogger Start --> <meta content='text/html; charset=UTF-8' http-equiv='Content-Type'/> <meta content='blogger' name='generator'/> <link href='https://www.makkellar.com/favicon.ico' rel='icon' type='image/x-icon'/> <link href='https://www.makkellar.com/2026/01/eksploitasi-sumber-daya-alam-berisiko.html' rel='canonical'/> <link rel="alternate" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.makkellar.com/feeds/posts/default" /> <link rel="alternate" type="application/rss+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - RSS" href="https://www.makkellar.com/feeds/posts/default?alt=rss" /> <link rel="service.post" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.blogger.com/feeds/2646944499045113697/posts/default" /> <link rel="alternate" type="application/atom+xml" title="Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera - Atom" href="https://www.makkellar.com/feeds/6719503163934180625/comments/default" /> <!--Can't find substitution for tag [blog.ieCssRetrofitLinks]--> <link href='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhg-RbVOIxEv9iPZeY-C404aFjao0MSo1MxTbHQxOqbmhGHAjm-LTE1h_HeuqMOdMU7Ciik3ujTZtUNVcC9Owob_SLqA3Zot4TeqVLvAqJuG-K8KG2Lem_xyKKtcJTbiNBNvTIwG_v3u-btQwucWtdwinW5hVrqm5x2QIDmNWeZtl6mULaY80i7C6E5uSE/s320/Belajar%20dari%20Belanda%20soal%20Tambang.jpg' rel='image_src'/> <meta content='Ketergantungan pada eksploitasi sumber daya alam berisiko menjerumuskan Indonesia ke Dutch Disease.' name='description'/> <meta content='https://www.makkellar.com/2026/01/eksploitasi-sumber-daya-alam-berisiko.html' property='og:url'/> <meta content='Eksploitasi Sumber Daya Alam Berisiko Menjerumuskan Indonesia ke Dutch Disease' property='og:title'/> <meta content='Ketergantungan pada eksploitasi sumber daya alam berisiko menjerumuskan Indonesia ke Dutch Disease.' property='og:description'/> <meta content='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhg-RbVOIxEv9iPZeY-C404aFjao0MSo1MxTbHQxOqbmhGHAjm-LTE1h_HeuqMOdMU7Ciik3ujTZtUNVcC9Owob_SLqA3Zot4TeqVLvAqJuG-K8KG2Lem_xyKKtcJTbiNBNvTIwG_v3u-btQwucWtdwinW5hVrqm5x2QIDmNWeZtl6mULaY80i7C6E5uSE/w1200-h630-p-k-no-nu/Belajar%20dari%20Belanda%20soal%20Tambang.jpg' property='og:image'/> <!-- Title --> <title> Bukan makelar tapi Menjadi peranta untuk kebaikan bersama Eksploitasi Sumber Daya Alam Berisiko Menjerumuskan Indonesia ke Dutch Disease - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera Eksploitasi Sumber Daya Alam Berisiko Menjerumuskan Indonesia ke Dutch Disease - Menjadi Perantara Menuju Jalan Sejahtera

Eksploitasi Sumber Daya Alam Berisiko Menjerumuskan Indonesia ke Dutch Disease

Apa itu Dutch Disease?

Dutch Disease adalah istilah dalam ekonomi yang menggambarkan paradoks kekayaan sumber daya alam. Ketika sebuah negara menemukan dan mengeksploitasi sumber daya alam besar (seperti gas, minyak, atau mineral), justru sektor-sektor ekonomi lain melemah. Istilah ini pertama kali populer pada akhir 1960-an, setelah Belanda menemukan cadangan gas alam raksasa di Groningen.

Istilah Dutch Disease memang nyata dan diambil dari pengalaman historis Belanda, yang sering dijuluki Negeri Kincir Angin tersebut.

Apa yang Terjadi di Belanda?

Sebenrnya apa yang terjadi di Belanda hingga muncul istilah tersebut, secara ringkas, alurnya seperti ini:

1. Gas dianggap “Berkat Besar”

Penemuan gas alam membuat negara tersebut mendapatkan devisa yang melonjak dan diikuti oleh pendapatan negara yang tentu meningkat tajam. Rupanya berkat besar itu menjadikan negeri tersebut pengekspor gas bahkan menjadi tulang punggung ekonomi. Akibatnya negara pun terlena, merasa sudah menemukan mesin ekonomi yang “pasti”.

2. Nilai Mata Uang Menguat

Masuknya devisa besar menyebabkan mata uang Belanda menguat dan karena begitu fokusnya dengan cadangan penemuan tersebut yang dikelola dengan serius, rupanya hal tersebut meninabobokkan negara terhadap ekspor manufaktur dan industri lain menjadi lebih mahal dan kurang kompetitif

Akibatnya industri manufaktur melemah dan sektor pertanian dan industri kreatif terpinggirkan, kurang mendapat perhatian.

3. Perhatian Ekonomi Menjadi Timpang

Rupanya penemuan cadangan gas di Groningen seperti memberikan kepuasan kepada negara, karena cara dapatnya mudah, cepat dan tentu menguntungkan. Di saat-saat yang menyamankan tersebut rupanya investasi dan perhatian negara hanya tersedot ke satu sektor yang menjadi andalan, dan satu lagi diversifikasi ekonomi terabaikan

4. Ketika Gas Mulai Menurun

Di dunia ini memang tidak ada yang abadi, cadangan gas akan habis, minyak suatu saat akan berakhir, tambang akan memasuki masa akhir. Dan dalam konteks Dutch Disease ini di mana cadangan gas tidak lagi sekuat sebelumnya maka yang terjadi adalah:

industri lain sudah telanjur lemah

tenaga kerja tidak siap berpindah sektor

negara menghadapi kebingungan struktural

Inilah momen refleksi pahit yang melahirkan istilah Dutch Disease.

Bagaimana dengan Indonesia?

Bagi Indonesia, kekayaan alam sering dipersepsikan sebagai jalan paling cepat menuju kemakmuran. Batu bara, minyak, gas, nikel, hingga sawit memberi pemasukan besar dan terlihat nyata hasilnya. Namun, di balik itu, ada persoalan yang lebih sunyi: arah insentif ekonomi yang keliru.

Negara tanpa sadar membangun sistem yang lebih menghargai siapa yang paling cepat menggali, dibanding siapa yang paling mampu mencipta nilai baru. Inilah salah satu inti dari peringatan Dutch Disease yang kerap luput dibahas.

Apa yang Dimaksud dengan “Insentif” dalam Konteks Negara?

Insentif bukan sekadar subsidi atau pajak rendah. Insentif adalah sinyal negara tentang sektor mana yang dianggap penting, aktivitas apa yang “pantas diperjuangkan”, dan arah masa depan ekonomi.

Ketika perizinan tambang dipermudah, royalti rendah, dan ekspor bahan mentah didorong, pesan yang sampai ke publik adalah, “Mengeruk lebih dihargai daripada mencipta.”

Sebaliknya, ketika inovasi, industri kreatif, riset, dan manufaktur bernilai tambah minim dukungan, maka sektor-sektor itu tumbuh tertatih.

Bahaya Ekonomi Ekstraktif yang Terlalu Nyaman

Ekonomi berbasis ekstraksi memiliki ciri khas, cepat menghasilkan uang, minim risiko inovasi, tetapi miskin transfer pengetahuan.

Dalam jangka pendek, ia tampak menguntungkan. Namun dalam jangka panjang, ia bisa melemahkan daya cipta bangsa, membuat tenaga kerja terjebak pada sektor berumur pendek, dan menciptakan ketergantungan struktural pada alam. Ketika cadangan menipis atau harga global jatuh, negara pun “tolah-toleh” mencari sumber baru.

Mengapa Insentif Harus Dialihkan Sekarang, Bukan Nanti?

Kesalahan klasik banyak negara adalah menunggu krisis datang baru berbenah. Padahal, perubahan insentif justru paling efektif dilakukan saat di mana cadangan masih tersedia, penerimaan negara masih kuat, dan ruang fiskal masih ada.

Yang harus dilakukan semestinya adalah mengalihkan insentif berarti, memanfaatkan hasil ekstraksi hari ini untuk membangun fondasi ekonomi esok hari, bukan mempertahankan ketergantungan yang sama.

Dari Mengeruk ke Mencipta: Arah Baru yang Mendesak

Mengalihkan insentif bukan berarti menghentikan tambang secara mendadak. Yang dibutuhkan adalah pergeseran prioritas, antara lain:

1. Nilai Tambah, Bukan Bahan Mentah

Ekspor bahan mentah memberi keuntungan cepat, tetapi nilai ekonominya kecil. Insentif seharusnya diarahkan pada pengolahan, manufaktur, dan hilirisasi yang menciptakan keahlian dan lapangan kerja berkelanjutan.

2. Inovasi sebagai Sumber Daya Baru

Sumber daya alam terbatas, tetapi ide dan pengetahuan tidak. Negara perlu menjadikan riset, teknologi, dan kewirausahaan berbasis pengetahuan sebagai “tambang baru” yang terus diperbarui.

3. Menghargai Pencipta, Bukan Sekadar Pemilik Konsesi

Sistem ekonomi yang sehat memberi penghargaan lebih besar pada pencipta solusi, pembangun sistem, pengembang manusia, jadi bukan hanya pada pemegang izin eksploitasi.

Dimensi Moral: Tanggung Jawab Antargenerasi

Mengalihkan insentif sesungguhnya bukan sekadar kebijakan ekonomi, tetapi keputusan moral. Ia menjawab pertanyaan penting apakah kita ingin mewariskan kemampuan, atau hanya meninggalkan lubang?

Jika hari ini insentif hanya menguntungkan eksploitasi, maka generasi cucu kita mungkin tidak mewarisi kekayaan, tetapi justru mewarisi kerusakan dan ketergantungan.

Penutup: Mencipta sebagai Jalan Keluar dari Dutch Disease

Akhirnya Dutch Disease bukan takdir. Ia adalah peringatan. Negara yang bijak tidak memusuhi kekayaan alamnya, tetapi juga tidak menyembahnya. Dengan mengalihkan insentifnya yaitu, dari mengeruk ke mencipta, dari cepat untung ke berkelanjutan, dari eksploitasi ke inovasi, dan kekayaan alam bisa menjadi modal awal peradaban, bukan akhir cerita.

Eksploitasi Sumber Daya Alam Berisiko Menjerumuskan Indonesia ke Dutch Disease Eksploitasi Sumber Daya Alam Berisiko Menjerumuskan Indonesia ke Dutch Disease Reviewed by Admin Brinovmarinav on 11.20 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.