Bagimana Cara Supaya Berani Disuntik Vaksin?

Selasa, 09 Maret 2021

Bagimana Cara Supaya Berani Disuntik Vaksin?

Ketika Presiden RI Joko Widodo memberikan contoh penyuntikan Vaksin Corona ke publik saya sebenarnya ketar-ketir karena terus terang saya adalah satu dari sekian banyak orang yang takut dengan jarum suntik. Apalagi setelah mendengar bahwa penyuntikan Vaksin Corona akan dilakukan dua kali. Tambah stress rasanya mendengarnya. Tapi tentu saja untuk kebaikan bersama supaya bangsa ini bisa lepas dari pandemi yang telah membunuh banyak orang ini ketakutan terhadap jarum suntuk itu harus dilawan. Tapi bagaimana caranya?

Seorang teman mengirimkan foto di pesan melalui Whatsapp sambil menunjukkan surat yang penjekasannya, katanya sudah divaksin. Pesannya begini, "Ternyata divaksin itu tidak sakit." Teman saya mungkin benar bahwa ketika divaksin tidak sakit. Dan ketika saya berjumpa dengan teman saya itu, ia menjelaskan perihal pesannya itu dengan mengatakan, "pokoknya duduk saja dan kemudian disuntik. Tidak terasa sama sekali." 

Tapi maaf, penjelasan teman saya yang sangat detail bagaimana proses divaksin itu sangat mudah dan tidak terasa. Walaupun demikian, dalam bayangan saya, membayangkan jarum suntik saja, sudah menjadikan saya mengernyitkan dahi. Apalagi ketika akan dilakukan suntik. Rasanya apa yang disampaikan teman itu tidak menghilangkan sama sekali ketakutan saya untuk disuntik tersebut.

Namanya orang takut memang tidak bisa diukur dengan kekuatan apapun. Jangan salah kalau kita lihat beberapa orang yang berstatus orang kuat secara fisik, tapi menjadi letoy ketika berhadapan dengan jarum suntik. Sebenarnya jarum suntik itu sendiri sangat kecil dan tidak mungkin akan membuat sakit yang berkepanjangan. Tapi perasaan takut itu tidak bisa diukur dengan jarum suntik yang kecil seperti apapun. Sama halnya dengan orang yang tidak pernah takut dengan hantu, tentu ia tidak akan merasa bulu kuduknya berdiri ketika melewati tempat gelap. Menganggap biasa saja ketika melewati tempat-tempat angker tersebut. Sebaliknya orang yang takut dengan hantu, jangankan melewati tempat-tempat gelap, berada sendirian di rumah saja sudah merasa ketakutan. Walaupun semuanya penuh dengan cahaya lampu yang terang.

Saya punya cerita dan tidak pernah saya melupakan peristiwa itu. Jadi suatu kali keponakan saya  mengajak saya dan keluarganya naik gunung. Menuju ke gunung tersebut harus melewati persawahan yang cukup banyak dengan rumput. Tiba-tiba keponakan saya yang saat itu berumur sekitar 5 tahun itu minta gendong. Alasannya dia ketakutan dengan rumput. Tentu saja kita dengan tertawa terbahak-bahak yang tentu bernada mengejek keponakan saya yang sedang ketakutan tersebut.

Kembali kepada suntik vaksin yang masih menjadi pergumulan saya ketika saya akan melakukan suntik vaktin nantinya. Saya masih mencari cara bagaimana supaya berani disuntik vaksin? Mendengar ceramah betapa tidak sakitnya ketika divaksin, itu terasa seperti orang mabuk yang dikhotbai supaya berhenti minum-minuman keras. Ketakutan bukan kepada vaksin itu sendiri, tapi ketakutan kepada jarum suntik yang masuk ke tubuh saya lebih kuat menghantui perasaan saya.

Apakah saya tidak pernah disuntik? Pernah tapi mungkin bisa dihitung dengan jari banyaknya. Pengalama saya disuntik ketika jenis penyakit yang saya alami dianggap tidak bisa ditolong selain melalui suntikan. Tidak cukup dengan obat yang dikonsumsi melalui oral. Tapi inilah pengalaman saya ketika disuntik. Saya berusaha untuk mengeden dengan tujuan supaya tidak terasa masuknya jarum suntik itu masuk ke tubuh saya khususnya di bagian pantat. Dan biasanya dokter mengingatkan supaya tidak melakukan hal tersebut. Kalau bisa, saya lebih baik minum obat dengan jumlah yang banyak ketimbang disuntik dengan jarum.

Bila demikian, bagaimana dengan rencana suntik Vaksin Corona? Saya sedang mengumpulkan kekuatan dengan berusaha meyakinkan diri saya bahwa suntik Vaksin Corona itu bukan hanya untuk diri saya saja, tapi bila memang hal tersebut bermanfaat,  dan besar manfaatnya, maka saya ingin memaksa diri saya bahwa suntikan vaksin itu memang bukan hanya untuk saya tapi untuk keluarga saya dan setiap orang yang menjalin hubungan dengan saya. Jadi, saya ingin mencapai kepada kesadaran diri, bahwa itu penting. Menurut ahli kesehatan bahwa suntik vaksin bertujuan terciptanya kekebalan kelompok, makanya suntikan vaksin perlu dilakukan bagi siapapun yang sudah ditarget oleh pemerintah. 

Hal lain lagi adalah saya teringat dengan Peraturan Presiden  Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengadaan  Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi, soal sanksi yang tertuang  di pasal 13a ayat 4. Tertulis, "Setiap orang yang telah ditetapkan sebagai sasaran penerima vaksin Covid-19 yang tidak mengikuti vaksinasi dapat dikenakan sanksi administratif berupa: penundaan sosial atau bantuan sosial; penundaan atau penghentian layanan administrasi pemerintahan; dan/atau denda. Bentuknya bagaimana? Bisa saja kita mungkin akan diminta bukti sudah divaksin ketika akan mengurus entah itu KTP, KK, dan seterusnya yang sifatnya administratif.

Ketika artikel ini dibuat seorang teman dari Sulawesi bertanya apakah saya akan ikut divaksin? Jawaban saya, walaupun saya takut, tapi saya akan berjuang untuk melakoninya. Betapapun itu sakit secara psikologis.  

Pesan terakhir dari tulisan saya ini, ada baiknya setiap orang tua berhenti menakut-nakuti dengan "nanti disuntik lho!", karena hal tersebut akan tertanam dalam bawah sadar bahwa suntik itu sakit. Seperti yang saya alami kini.

0 komentar:

Posting Komentar