Jangan Sampai Menjadikan Pelanggan Apatis

Senin, 16 Maret 2020

Jangan Sampai Menjadikan Pelanggan Apatis

Ilustrasi Foto: Flickr.com

Pelanggan seperti saya dan bisa dipastikan pelanggan lain yang biasa melakukan belanja online pastilah mencari barang yang sangat baik dan tanpa cacat serta awet serta memberi kepuasan. Lalu bagaimana kalau seumpamanya barang yang diterima ternyata barangnya cepat rusak, mudah patah, banyak cacatnya, dan tidak memberi kepuasan, maka pelanggan akan menyesal telah membeli barang tersebut. 

Memang informasi mengenai barang sangat penting untuk memberi penjelasan dengan gamblang apa yang akan dikirimkan. Tentu hal ini terjadi sebelum transaksi. Transaksi adalah masa akhir di mana semuanya ditentukan, puas atau menyesal ketika barang itu di tangan pembeli.

Coba perhatikan ungkapan pembeli di kolom tanggapan, "Barangnya baru diputar, lalu pegangannya patah. Menyesal saya membeli di toko ini." Kalau memang baranbg yang dimaksud itu disesuaikan dengan harga yang murah, tentu saja pembeli punya kewajiban untuk menerangkan bagaimana kelemahan barang tersebut. 

Tidak mudah memang, karena dengan menjelaskan sisi kelemahan dari barang yang kita jual akan menyurutkan pembeli untuk melakukan transaksi. Tapi pembeli seperti saya akan memperhitungkan uang yang akan dikeluarkan dengan barang yang akan diterima. Kalau uangnya pas-pasan, tentu tidak akan berpimpi yang paling tinggi.

Makanya mungkin sebaiknya yang harus dihindari adalah iklan bombastis yang sepertinya barang yang dijual adalah barang baik, tapi bila kenyataannya tidak baik, maka hal itu akan mengecewakan pembeli. Di sinilah, penjual dituntut untuk belajar realistis, bahwa memang barang yang dijual itu adalah barang dengan kondisi sesuai dengan kenyataan. Bukan barang yang secara penjelasan sangat tinggi, tapi dalam kenyataan membuat pembeli menyesal. Kalau menyesal mungkin barang itu akan dibuang begitu saja.

Ruang tanya jawab mengenai barang sebaiknya dipergunakan untuk meminimalisir kekecewaan pembeli itu. Saya pernah membeli sebuah Ipad yang dari segi harga sangat miring dan banyak pembeli yang memberi tanggapan positif berdasarkan pengalaman. Ketika saya melakukan transaksi, penjual tersebut tiba-tiba menghubungi melalui chat untuk apa Ipad itu akan digunakan? 

Kemudian penjual itu menyarankan barang yang lebih mahal dari jumlah rupiah yang saya keluarkan. Saya bilang bahwa Ipad dengan spek pas-pasan itu hanya akan dipergunakan untuk membaca teks running khususnya aplikasi Teleprompter. Penjual akhirnya mengerti. Ketika saya menerima Ipad tersebut saya puas dan tidak mengecewakan.

Baca Juga:


0 komentar:

Posting Komentar